Minggu, 24 April 2011

WARNA-WARNI ISLAM

Judul di atas bukan bermaksud mencontek tag sebuah iklan milik JIL (Jaringan Islam Liberal)yang pernah ditayangkan di televisi beberpa waktu lalu.Tapi semuanya berawal dari suatu malam di sebuah acara tahlilan.Seorang teman A,yang menjadi salah satu pengurus masjid di kampungnya,curhat pada teman B.

Si A mengeluhkan betapa sulitnya amanah yang di embannya untuk memakmurkan masjid.Karena setiap kali imam yang datang dari kalangan Muhammadiyah,maka kalangan NU tidak banyak yang datang.Begitu pula sebaliknya,jika imamnya dari kalangan NUmeski masjid lebih ramai,tapi sedikit kaum Muhammadiyah yang jadi jemaah.Hal itu menjadi kerisauan tersendiri baginya.Demi mendengar ratapan sobatnya tersebut teman B mengatakan "..pokoknya kalo pengen memakmurkan masjid imamnya kalo bisa harus dari NU pakde.." alasannya "kalo imamnya dari muhammadiyah ga bakal masjid ramai dan makmur  pakde,karena selesai sholat,orang muhammdiyah kadang langsung ngacir atau berdzikir sendiri-sendiri,masjid jadi sepi.Beda kalo imamnya dari NU,selesai sholat pasti mereka berdzikir bersama,jadi suasana masjid lebih hidup dan masih ramai pakde..".Begitu masukan teman B yang disampaikan dengan cara semirip mungkin dengan ustad-ustad di televisi tiap subuh.Sementara teman A mangut-mangut seperti murid padepokan silat mendapat ilmu rahasia dari sang suhu.

Saya yang dari tadi cuma bengong mendengar dialog suhu dan murid..eh salah ding! kedua teman  tadi maksudnya,tidak sempat menyampaikan pendapat karena pikiran lagi buntu,maklum tanggal tua he he he.

Namun yang perlu mendapat perhatian adalah esensi dari dialog tadi.Hal ini membuktikan di kalangan umat Islam sendiri seperti masih ada sekat yang menjadi tirai penghalang umat islam untuk maju.Dan ini adalah fakta yang mungkin masih bisa kita temui dimana-mana,terlebih di kalangan masyarakat urban atau pedesaan.
Paradigma yang lebih mengedepankan sisi emosional terhadap suatu golongan daripada rasionalitas.
Masih kita dapati umat islam meributkan perlunya sholat subuh pakai qunut atau tidak,pakai niat di ucapkan atau tidak,atau selesai sholat dzikirnya harus sendiri atau sama-sama,atau juga sholat jumatnya pakai adzan sekali atau dua kali.
Dengan mempermasalahkan hal-hal tersebut umat jadi melupakan inti ibadahnya yaitu sholat.Karena yang sebenarnya salah adalah yang tidak melaksanakan sholat.
Begitu pula fanatisme terhadap suatu golongan membuat kita seringkali bersikap apatis terhadap pendapat dari golongan lain,sehingga menimbulkan jarak diantara sesama muslim itu sendiri,seperti kasus yang di alami teman A tadi.

Hal inilah sebenarnya yang perlu kita perbaiki,menjadi tugas kita sesama muslim untuk dapat menanamkan pola pikir yang lebih terbuka kepada sesama muslim untuk mempertipis jarak yang mungkin selama ini ada.
Jadi bukan berarti dengan menampilkan imam dari golongan tertentu masalah memakmurkan masjid bisa selesai,justru hal ini akan membuat jarak semakin lebar.Permasalahan bukan terletak pada imam,tapi pola pikir.

Karena sebenarnya perbedaan antara ormas NU dan Muhammdiyah hanya terjadi pada tingkat furu`iyyah atau cabang-cabang dalam agama.Tidak ada perbedaan yang fundamental antara keduanya atau yang menyimpang dari pokok-pokok agama (ushuludin).
Secara umum semua masih dibingkai dalam satu aqidah yang dianut jumhur muslimin sepanjang jaman,yang biasa kita kenal Ahlusunnah Wal Jamaah.
Keduanya juga bukan jenis aliran dalam islam,seperti mu`tazilah,qodariyah,jahmiyah dll.

Ada cerita menarik yang pernah saya baca,yang mungkin bisa kita teladani.Suatu saat pemimpim NU,KH Idham Cholid melakukan perjalanan ke tanah suci mekkah bersama pemimpin Muhammdiyah,Buya Hamka.Di dalam kapal laut,saat melaksanakan sholat subuh berjamaah,para pengikut NU di buat heran saat Idham Cholid yang biasanya memakai doa qunut,kali ini tidak memakai doa qunut ketika menjadi imam bagi Buya Hamka dan sebagian pengikutnya menjadi makmum.
Begitu pula sebaliknya,ketika Buya Hamka yang biasanya tidak pernah memakai doa qunut,malah memakai doa qunut ketika menjadi imam bagi Idham Cholid dan sebagian pengikutnya.Tentu saja ini menimbulkan keheranan bagi pengikut Buya Hamka.
Selesai sholat Buya Hamka malah saling berpelukan dengan Idham Cholid,sebagai sinyal mereka saling menghormati tanpa pernah melihat perbedaan yang ada..Indah bukan ?

Pola pikir seperti kedua pemimpin itulah yang seharusnya menyertai kita dalam menegakkan Islam.Perbedaan yang ada (selama tidak menyimpang dari pokok-pokok agama) biarlah menjadi warna dalam islam seperti halnya pelangi yang berwarna-warni tapi semuanya berawal dan titik yang sama berangkat secara bersama menuju satu titik yang sama pula.

Wallahuallam