Minggu, 19 Juni 2011

DAN AYAMPUN NELANGSA DI LUMBUNG PADI (2)

Postinganku sebelumnya hanya membahas bagaimana dampak ketidakmasuk akalan pengelolaan sumber energi di daerah.Dengan begitu banyak dampak negatif yang ditimbulkan.Logikanya begini,jika saja di daerah ketidak masuk akalnnya sampai segitu,apalagi dalam skala nasional?Bisa jadi terdapat lebih banyak keruwetan di sana-sini.Karena beberapa ijin pertambangan pasti juga melibatkan pusat.
Sehubungan dengan diskusi dengan atasanku kemarin,aku seperti menangkap kesan bahwa premium seperti menjadi"anak haram"yang tidak pernah dikehendaki keberadaannya,karena pemerintah sempat memunculkan wacana penghapusan premium untuk di ganti dengan pertamax,yang harganya mengikuti selera pasar.Seolah-olah hanya pertamax yang menjadi satu-satunya solusi menekan bengkaknya anggaran negara.
Jika kita memakai analogi "anak haram",sebenarnya bukan anaknya yang haram,tapi perbuatan orang tuanyalah yang haram,betul nggak?Jadi bisa ku sebutkan bahwa pembatasan apalagi penghapusan premium adalah perbuatan haram!..suit..suit..plok..plok..plok..plok

Yang aku tahu alasan pemerintah untuk membatasi subsidi adalah 1.mengurangi beban APBN 2.Menghemat keuangan negara 3.Menyalurkan subsidi tepat sasaran.3 poin ini juga yang menjadi alasan atasanku tadi untuk mendukung program pemerintah.Tapi yang menjadi pertanyaan apakah ketiga alasan itu bisa di pertanggungjawabkan kevalidannya?

Apakah elok,ketika pemerintah berharap menekan anggaran untuk subsidi sebesar 133 T,tapi di sisi lain pemerintah mengajukan anggaran sebesar 247 T untuk membayar hutang luar negeri,dimana 116,4 T untuk bunganya saja (detikfinance.com,9/1/2011).
Aku ambil logika sederhana lagi,Perusahaan migas Exxon Mobil yang beroperasi si Indonesia  di tahun 2007 menurut CNN,mendapatkan penghasilan sebesar 1.057 T,dengan laba bersih mencapai 373 T.Itu baru keuntungan "penggarap lahan",bagaimana dengan keuntungan "pemilik lahan"? sedangkan di tahun yang sama pemerintah pemerintah memberikan subsidi energi sebesar 116,9 T.
Jika"penggarap lahan"mendapat laba sedemikian besar,harusnya "pemilik lahan"mendapat hasil yang lebih besar lagi,dimana laba"penggarap" saja sudah melebihi untuk memberi subsidi,apalagi "pemilik"?Begitu kan logikanya?
Tapi entah mengapa masih ada keluhan bahwa subsidi bbm selalu membebani negara.,seolah rakyat yang boros mamakai bbm,dan pemerintah harus menanggung keborosan tersebut.Bukankah peran pemerintah adalah pemelihara kebutuhan rakyat?mengapa tidak dikurangi saja cicilan hutangnya.Atau di kurangi saja anggaran untuk pejabat dinas ke luar negeri yang mencapai 24,5 T.

Seperti di lansir Kompas.com,negara sebagai pemilik lahan di Papua yang lahannya di kelola PT Freeport mendapat penerimaan pajak,deviden dan royalti selama 2010 sampai September,sebesar 11,8 T.Nah berapa pengahasilan PT Freeportnya,kalikan saja.Dengan saham milik Indonesia yang hanya 1%,Indonesia mendapat 11,8 T,berarti penghasilan penggarap mencapai kurang lebih 106,2 T.Ini lebih tidak masuk akal lagi,masak pemilik lahan cuma dapat bagian 1% dari lahan miliknya,sedangkan penggarapnya mendapat hasil yang jauh lebih besar.
Juga apa yang dilansir Kompas juga 13/10/2006,sangat lebih mengherankan.Dimana bagi hasil sektor migas sebesar 85:15 antar pemerintah dan perusahaan asing baru diberlakukan setelah di potong cost recovery.Jika tidak tersisa maka Indonesia tidak dapat.Di blok Natuna setelah di potong cost recovery Indonesia dapat 0,sedangkan Exxon 100%.Lucunya lagi biaya senang-senang bermain golf ikut dimasukkan juga dalam cost recovery...hohohoho...
Dan itu baru satu perusahaan,bagaimana jika banyak perusahaan jika memiliki kontrak yang sama?Bisa-bisa selama ini hasil pertambangan migas tidak pernah dinikmati Indonesia Sedangkan porsi operator minyak dan gas di Indonesia saat ini mencapai 75 % milik investor asing.Dan baru akan ditingkatkan  menjadi 50% pada tahun 2025.Bisa dibayangkan berapa juta barel yang akan hilang selama 14 tahun kedepan dan berapa barel yang tersisa?Apa nggak miris kita dengan keadaan itu?

Belum lagi ketika aku membaca bahwa Dirut PLN,Dahlan Iskan sampai harus terbang ke Iran untuk menjajaki pembelian gas untuk pembangkit tenaga listrik.Lho katanya Indonesia adalah penghasil gas terbesar di dunia?Ternyata selain penghasil,Indonesia juga merupakan pengekspor LNG terbesar di dunia.Artinya hampir semua gas milik kita di ekspor ke luar negeri.Maka di buatlah kita bangga dengan julukan pengekspor terbesar tersebut.Padahal dibalik itu di dalam negeri kita malah kekurangan gas,di postinganku sebelumnya sudah terbukti,bagaimana gas yang sudah dihasilkan sejak tahun 1977,tetapi daerahnya sendiri baru memanfaatkan gas tersebut 2 tahun belakangan,itupun "tenaga mini gas".

Ah andai saja pemilik lahan mendapat penghasilan yang sesuai,mungkin subsidi bbm tidak lagi menjadi panu dalam APBN

Karena seperti kita tahu,di negeri ini kebutuhan bbm merupakan kebutuhan dasar masyarakat seperti halnya beras.
Tapi jika alasan pemerintah (juga atasanku) bahwa selama ini subsidi bbm tidak tepat sasaran karena lebih banyak dinikmati oleh orang-orang mampu(kaya),harusnya di kaji lebih dulu,jika saja sudah lebih dari separuh penduduk Indonesia adalah orang kaya mungkin kebijakan ini tepat.Tapi jika sebaliknya apa masuk akal?jika di perbandingkan jumlah rakyat pemilik kendaraan mewah dibanding rakyat miskin,aku yakin akan terdapat perbendingan yang sangat njomplang.Atau taruhlah pemilik mobil pribadi yang tidak mewah,aku juga yakin pebandingannya masih akan njomplang.Selain itu,banyak kita tahu,kendaraan pribadipun banyak juga digunakan untuk usaha.Untuk mengangkut sembako misalnya,antar jemput anak sekolah dll.

Sudah menjadi hukum alam di negeri ini,andai bbm dikurangi subsidinya ataupun malah dihapuskan pastinya hal ini akan memicu naiknya harga barang.Dengan daya beli yang masih rendah,yang sengsara ujung-ujungnya rakyat juga.Seperti lirik lagu Iwan Fals "..bbm naik tinggi susu tak terbeli,orang pintar tarik subsidi,anak kami kurang gizi.."
Terlebih jika hanya ada pertamax,yang harganya mengikuti selera pasar,dimana dalam 24 jam harga minyak dunia bisa berubah dalam sekejap,bisa dipastikan akan berdampak pada dunia bisnis dan industri,lebih-lebih indusrti menengah ke bawah.Dimana ongkos tranportasi juga akan berubah-ubah,syukur kalo pas murah,kalo pas mahal,siapa yang kena dampak?

Dari kesemua itu,aku seperti menarik kesimpulan bahwa salah satu permasalahan yang mendasar dalam kebutuhan energi kita adalah terlalu banyaknya pemasalahan yang ada di dalam tatakelola pengelolalaan sumber energi.Dari sistem porsi bagi hasil yang di luar akal sehat,kecenderungan kita mengekspor hasil sumber daya alam demi sebutan yang "terbesar",tapi tidak pernah memperhatikan kebutuhan dalam negeri.Jadi,bukan masalah 133 T atau berapa trilyun,karena angka tersebut masih "lebih kecil" jika di bandingkan dengan potensi sesungguhnya yang bisa di hasilkan jika tatakelola yang lurus di jalankan.

Sebagai gambaran lagi,seperti di katakan staff ahli deputi umum BP migas,Agus Suryono di Makassar 24/3/2011,kebutuhan bbm kita perhari mencapai 1,3 juta barel perhari,sedangkan produksi hanya 954 bph.Artinya kita masih kekurangan 346 ribu bph ,yang berarti harus impor.Harga impor inilah yang sering di jadikan alasan untuk menaikkan harga atau menghapus subsidi bbm.Padahal kalau saja blok-blok minyak lebih banyak di kelola oleh negara,bisa di pastikan Indonesia tidak perlu impor.Logikanya begini,dengan blok minyak yang hanya 25% saja Pertamina bisa menghasilkan lebih kurang lebih 2/3 kebutuhan bbm dalam negeri,apalagi jika dengan 100% blok minyak?.Indonesia (Pertamina) tidak mampu? Hal ini sudah dibantah oleh Direktur Pertamina sendiri,Salis Aprilian.Lagian 50 tahun mengelola blok migas masak selama itu masih tidak mampu?

Belum lagi sistem distribusi yang lemah dalam pengawasan.Sudah berkali-kali kita dengar bbm kita banyak yang di selundupkan keluar negeri karena harga yang jauh"lebih bagus".Mungkin tidak saja ke luar negeri,di dalam negeri bbm bersubsidipun diselewengkan.Caranya? gampang,dengan menjual bbm bersubsidi ke industri.Dengan harga bbm industri yang hampir 2 kali lipat dari harga bbm bersubsidi,maka industri cenderung membeli bbm bersubsidi untuk menekan anggaran operasional.Sedangkan distributor pun bisa menjual bbm subsidi dengan harga "sedikit bagus" (taruhlah dinaikkan 500/1000 perliter),maka sudah bisa di bayangkan berapa keuntungannya.

Nah dengan sistem dan pengawasan yang masih carut marut tersebut,mengapa kesalahan harus dibebankan kepada rakyat?Sebagai penyelenggara negara,seharusnya pemerintah membenahi sistem dan pengawasan,bukan malah menjadikan rakyat tumbal dari kegagalan sistem.
Seringnya aku baca slogan yang ada di kantor pajak tentang di wajibkannya warga negara untuk taat pajak.Padahal seperti kita tahu banyaknya kebocoran pajak yang terjadi (kasus Gayus),tetapi pemerintah tidak pernah meminta  maaf atas hal tersebut.Nah,jika warga negara diwajibkan membayar pajak,yang merupakan bentuk halus dari "subsidi" rakyat kepada pemerintah,mengapa pemerintah malah seperti enggan memberikan subsidi kepada rakyat?

Indonesia,seperti yang pernah di ucapkan oleh Emha Ainun Najib,adalah sepenggal surga yang pernah bocor ke bumi.Hingga di masa lalu pernah di juluki dengan Zamrud Khatulistiwa,merujuk pada kekayaan dan keindahan alam yang luar biasa,yang tidak dimiliki negara lain di muka bumi.
Tentunya kita tidak ingin kisah tentang Zamrud Khatulistiwa kelak hanya akan menjadi sekedar romantisme masa lalu,atau dongeng pengantar tidur bagi generasi selanjutnya,generasi anak dan cucu kita.Lalu menyisakan ayam-ayam yang nelangsa di lumbung padi,yang (bisa jadi sudah) tak berisi padi.

Wallahualam.



Senin, 13 Juni 2011

DAN AYAM PUN NELANGSA DI LUMBUNG PADI (1)

Hampir sebulan lalu kota Bontang,dimana aku tinggal terjadi antrian bensin dimana-mana,bahkan terjadi hampir di seluruh Kaltim.Berawal dari situ timbul diskusi kecil-kecilan dengan salah satu atasanku.Beliau adalah seorang sarjana ekonomi yang pandai
Menurut beliau salah satu penyebab antrian adalah karena beban negara terhadap subsidi bbm sudah terlalu besar,mencapai 133 trilyun rupiah.Subsidi tidak tepat sasaran karena banyak orang kaya juga memakai bbm bersubsidi.Sudah waktunya masyarakat beralih ke pertamax yang harganya di tentukan oleh pasar,tapi tetap dengan mendapat subsidi walaupun tidak besar.Adapun biaya 133 trilyun tadi bisa di alihkan ke sektor lain seperti kesehatan,pendidikan,infrastruktur atau hal lain yang lebih bermanfaat bagi masyarakat.Hmm..masuk akal.Selain itu lanjut beliau,sekarang tinggal 3 negara yang masih memakai premium,selain Indonesia ada 2 lagi negara di afrika.entah negara yang mana,sampai aku menulis ini belum kutemukan nama 2 negara tersebut.Mau ke Afrika juga nggak mungkin,apalagi kalo cuma buat nanya itu doang.
Dalam diskusi tadi aku tidak sempat mengajukan pendapat,karena 1.Sebagai bawahan,pendapatku jarang sekali di setujui seorang atasan 2.Sebagai cleaning service pendapatnya tidak akan masuk ke pemikiran seorang sarjana ekonomi 3.Aku memang tidak paham yang namanya hitung-hitungan dalam ilmu ekonomi.4.Terakhir,karena tugasku belum selesai,maka terpaksa kutinggal arena diskusi tersebut.

Sehubungan dengan keempat hal di atas,aku kok merasa gatal untuk menulis lagi..selain itu sebagai pelampiasan karena pendapat yang tersumbat tadi..tepuk tangan untuk cleaning service!!..plok..plok..plok...suit..suiiit

Untuk kawan-kawan yang mungkin belum pernah berkunjung ke provinsi Kaltim,sedikit aku berikan gambaran.Dalam berbagai berita di televisi,seringkali provinsi Kaltim di nilai sebagai 3 provinsi terkaya di Indonesia selain Riau dan Papua.Pendapat ini sangat beralasan,mengingat melimpah ruahnya kekayaan alam di 3 provinsi tersebut.Di Kaltim,selain batu bara di perut buminya,masih ada minyak dan gas bumi baik di darat maupun di laut,dan juga emas.Jangan lupakan pula kayu yang sempat menjadi primadona industri di tahun 1990an.
Menurut data dari Distamben Kaltim,tiap tahun hampir 200 juta ton batubara di angkut dari perut Kaltim.Adapun luas lahan untuk batubara sudah mencapai 3,2 juta hektar atau seluas provinsi Jawa Tengah.Sedangkan luas ijin kapling tambang ini mencapai total 4,4 juta hektar atau seluas negara Swiss!Mantapkan?

Jika kawan-kawan pergi ke Kaltim dan turun di Balikpapan,maka dari kejauhan sudah terlihat rig-rig minyak dengan kapal-kapal tangker pengangkut minyak bekeliaran di lautnya dan di selingi dengan kapal-kapal milik nelayan.Di dalam kota Balikpapan suasananya tidak kalah dengan suasana kota-kota di jawa,meski kontur kotanya yang berbukit dan naik turun.Bisa kita dapati bangunan-bangunan megah di selipi pemandangan industri minyak dan gas,dengan pabrik-pabrik yang di kelilingi pipa -pipa yang menjulur kesana-kemari seperti tanaman yang merambat,ditambah kilang-kilang minyak raksasa yang berdiri kokoh.Di malam hari susasana menjadi semarak dengan lampu-lampu yang menyala mengitari kawasan industri tempat berkumpulnya perusahaan -perusahaan dari dalam dan luar negeri yang ikut menikmati gurihnya minyak di Kaltim.


Menuju Samarinda yang merupakan ibu kota provinsi Kaltim.Seperi halnya ibukaota provinsi lainnya kota ini juga terkesan metropolis.Kota ini juga di aliri sungai Mahakam,dimana bisa kita saksikan kapal-kapal hilir mudik dengan menyeret ponton di belakangnya yang berisi timbunan batubara yang di keruk dari berbagai lokasi di sekitarnya.Entah kemana mereka pergi.Sesekali masih bisa kita temui sisa-sisa kejayaan masa lalu industri kota ini,yaitu kayu yang juga di angkut kapal-kapal di sepanjang aliran Mahakam.

Beralih ke kota Bontang.Meski kota ini relatif lebih kecil dari Balikpapan,tapi suasana tidaklah ketinggalan jauh dengan sepupunya tersebut.Dengan luas lebih kecil kota ini relatif lebih tenang,tanpa hiruk pikuk seperti  kota besar.Di sini pula aku bertemu wanita yang kini menjadi istriku,dan sudah memberiku seorang bocah laki-laki..eeiit kok nglantur!!
Kontur jalanan kota yang juga naik turun memungkinkan kita untuk bisa melihat satu lagi "kemewahan".Seperti di Balikpapan,dari kejauhan kita bisa melihat kelap-kelip cahaya lampu di malam hari yang ada di komplek pengolahan gas bumi milik negara,seperti Singapura di lihat dari Batam (katanya orang-orang sih).Sekitar 10 km ke arah utara ada kawasan industri dengan berbagai macam produksi dari pupuk urea,melamine,methanol dll.
Beralih ke sekitar 80 km dari Bontang terdapat kota Sangatta yang memiliki pertambangan batubara terbesar di dunia dengan kualitas batubara terbaik di dunia pula.Di operasikan oleh perusahaan milik keluarga Bakrie,PT KPC,perusahaan ini mengeruk sekitar 45 juta metrik ton batubara pertahun dan menyuplai 17 negara Asia Pasifik dan Eropa,dimana konsumen terbesarnya adalah India dan Cina.Selain itu masih banyak kekayaan yang terdapat di daerah -daerah di Kaltim.
Itulah sekilas gambaran kekayaan bumi Kaltim,bagaimana?mantapkan?

Namun yang menjadi pertanyaannya,sudahkah semua kekayaan itu berdampak positif bagi para penghuninya?Jawabannya(sejauh pengamatanku)adalah masih belum sepenuhnya,masih banyak ironi di sana-sini.Buktinya?ya itu tadi antrian bensin salah satunya.Lho apa hubungannya?

Jadi begini kawan,maka dengarkanlah seorang cleaning service menganalisa sesuatu yang kedengarannya ga nyambung dengan provesinya,terlalu muluk-muluk,dan terkesan sok tahu.Berangkat dari logika sederhana saja.
Selama ini aku sering bertanya,kok bisa ya di Bontang terjadi kelangkaan bbm yang parah,padahal tempat  pengolahan minyak bumi terdapat tidak terlalu jauh?.Rasanya kok malah lebih ga nyambung jika subsidi 133 trilyun tadi di jadikan kambing hitam.
Jadi jika aku boleh berpendapat,sebenarnya yang pantas di jadikan kambing hitam yang paling hitam adalah sistem cara pengelolaan bbm.Bukan masalah subsidi 133 trilyun tadi.Sudah sejak lama tepatnya sejak krisis 1998,aku sering bertanya,jika saja kita tengok ke dalam pasal 33 UUD 1945 dimana di sebutkan bahwa:
1. Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan.
2. Cabang-cabang produksi yang penting bagi Negara dan yang menguasai hajat hidup
orang banyak dikuasai oleh Negara.
3. Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan
dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Tapi mengapa kita masih saja kesulitan untuk memenuhi kebutuhan energinya?Begitu menginjak bumi Kaltim,sedikit demi sedikit pertanyaanku terjawab,entah benar atau tidak,tapi aku yakin tidak akan salah 100%.Sedikit akan kuceritakan ilustrasinya.Sekali lagi ilustrasinya kawan,ntar kesimpulan di postingan berikutnya.Dan ini berangkat dari logika sederhanaku saja tanpa embel-embel ilmu ekonomi yang menurutku masih lebih memusingkan di bandingkan dengan ilmu ngelap meja di kantor

Betapa di kaltim aku melihat banyak perusahaan raksasa yang beroperasi namun tidak memberi kontribusi yang signifikan bagi daerah sekitarnya.Jadi perusahaan itu penyebabnya?,mungkin ,meski tidak sepenuhnya.Kukatakan tidak sepenuhnya karena perusahaan tersebut pastinya telah mengadakan perjanjian dengan pemerintah,di mana pemerintah adalah "perwakilan"dari rakyat.Nah di sinilah yang menjadi sumber permasalahannya.Bagaimana perjanjian dan apa isinya kita tidak pernah tahu,yang kita tahu perusahaan tersebut mengeksploitasi SDA tapi dengan meninggalkan jejak-jejak kelam di sekitarnya.Yang membuat kekayaan melimpah tersebut sedikit menetes ke bawah.

Di Muara Badak,yang merupakan sumber migas,aku pernah mengunjungi dan melihat sendiri betapa di sana simbol kemewahan kapitalisme duduk berdampingan mesra dengan simbol ketebelakangan.
Jalan menuju daerah tersebut tidak mencerminkan sebuah daerah yang kaya akan migas,dengan lubang di sana-sini.Sesaat kita bisa melaju mulus,namun kita harus siap-siap kaget begitu ada jalan bergelombang,dan berlubang yang hanya bisa di lalui dengan perseneling 1.Di sepanjang jalan rumah-rumah penduduk terlihat menyatu dengan gersangnya alam,padahal aku yakin di sini dulu merupakan hutan lebat.Sementara pipa-pipa yang mengangkut gas dari daerah mereka menjalar rapi di sepanjang jalan,letaknya yang terkadang di halaman rumah membuat pipa tersebut seringkali menjadi tempat menjemur ikan,pakaian.Seorang petani semangka yang ku temui bercerita bahwa sekarang kualitas tanamannya tidak sebaik dulu,yang membuat tanaman semangkanya tidak sebagus dulu.Ketika kusarankan supaya mengajukan bantuan ke perusahaan,jawabannya adalah "susah mas,ribet"
Mendekat ke kantor perusahaan eksplorasi migas jangan berharap akan melihat jalanan yang mulus,seperti layaknya jalan milik perusahaan besar.Yang ada hanya jalanan  tanah yang di keraskan.Jalan menuju kantornya hanya di lapisi paving yang sudah ditumbuhi rumput liar dan juga berlubang.Sedangkan kantornya berdiri megah,dengan ruangan ber AC,dan karyawan yang gagah dan anggun hilir mudik.
Sementara di sudut lainnya terdapat lapangan terbang mini yang biasa mengangkut karyawan perusahaan tersebut serta pejabat yang mungkin datang berkunjung.Pantas mereka tidak pernah tahu keadaan jalanannya karena kemana-mana mereka naik pesawat.

Di kotaku sendiri,sudah sejak tahun 1977 terdapat pabrik penghasil LNG terbesar di dunia.Namun uniknya selama itu pula kota Bontang mengalami nasib listrik yang byar-pet.Padahal selain gas,di seberang sana batubara juga di angkut berton-ton lewat begitu saja.Yang ada PLN di sana malah memakai tenaga diesel.Ini sudah lama kupertanyakan dalam hati,mengapa tidak memakai tenaga gas atau batubara saja yang ketersediannya melimpah,di bandingkan dengan solar yang pastinya akan mengurangi jatah buat kendaraan niaga yang kebanyakan memakai solar.Dan mungkin pertanyaanku di dengar oleh Allah swt,maka sejak kira-kira 2 tahun ini PLN sudah beralih ke PLTMG (Pembangkit Listrik Tenaga Mini Gas) hehehe.Eh sudah beberapa hari ini lho listrik kembali byar pet,katanya sih karena adanya perawatan mesin,yah..kenapa dulu nggak sekalian beli cadangannya to pak,supaya kalo ada perawatan tidak perlu mematikan listrik dan kalo tidur anakku nggak kepanasan.Sedangkan komplek industri pengolahan gas tersebut tidak pernah merasakan yang namanya mati lampu.Wajar karena fasilitas kepada karyawan diberikan sedemikian rupa,agar karyawan betah bekerja di tempat jauh.
Aku sendiri pernah 9 tahun tinggal di komplek perumahan milik perusahaan pupuk.Memang suasananya sangat nyaman.Mau masuk tidak sembarangan orang bisa masuk,karena di tiap akses keluar terdapat penjaga atau satpamnya.Air,listrik tidak perlu mikir bayar habis berapa,mau tiap hari nanggap orkes atau wayang semalaman,ga usah kuatir karena listrik gratis..tis.Mau rekreasi ,sudah ada danau buatan yang di indah.Mau beli keperluan sehari-hari tidak perlu keluar komplek perumahan,karena sudah disediakan tempat belanja.Malas masak atau pengen makan-makan bareng keluarga,juga sudah di sediakan tempatnya.Anak-anak mau sekolah,sudah ada sekolahannya,dari play group sampai SMA.Pengen olah raga?sebuah gedung serbaguna untuk untuk olahraga sudah tersedia,stadion sepak bola dengan lintasan lari juga ada,bahkan sebelum era otonomi daerah stadion Mulawarman adalah stadion dengan kualitas lapangan terbaik di Indonesia,Senayan yang sering banjir jika hujan,maka tidak dengan stadion tersebut.Kompletkan?Sekilas seperti menimbulkan kesan adanya kota di dalam kota,kalau tidak mau di sebut negara dalam negara.
Sementara dulu jika aku berkunjung ke rumah teman-temanku yang berada di luar komplek,kadang mereka sedang menunggu air mengalir sampai tengah malam,mereka berkata "mumpung lagi ngalir nif,tampung sebanyak-banyaknya,besok belum tentu ngalir lagi"Kadang listrik mereka mati,tanpa ada pemberitahuan.Sebuah keadaan yang tak pernah kutemui di dalam komplek perumahan.Dan kini aku ikut merasakan apa yang dulu dirasakan teman-temanku hehehe
Tapi sekarang keadaan pemerataan sudah lebih baik,dengan adanya kewajiban penyertaan dana CSR,atau Comdev atau apalah namanya.

Beralih ke Sangatta kawan.Seperti yang kuceritakan di awal tulisan,di sana terdapat perusahaan penghasil batubara terbesar dan dengan kualitas terbaik di dunia.Namun menjadi ironi karena ketika perusahaan ini yang dalam operasinya menghabiskan energi listrik sebesar 18,9 MW,dimana itu setara dengan 21 ribu listrik rumah tangga,atau kebutuhan 42% listrik di kaltim,malah membiarkan daerah setempat masih gelap gulita.Padahal kekayaan daerah tersebut di sedot dengan cara yang luar biasa.Sampai saat ini menurut Jaringan Advokasi Tambang baru 37 desa dari 135 desa yang ada di Sangatta yang sudah di aliri listrik.Kalo sudah begini masuk akal nggak?Belum lagi jika kita lihat keadaan alamnya yang seperti di perkosa habis-habisan,dengan lubang-lubang raksasa di sana-sini.Sedangkan akses jalanan menuju ke kota ini sekarang dalam keadaan sekarat,meskipun merupakan jalan provinsi,tapi keadaannya sungguh mengenaskan.Jika dulu aku bisa menempuh sekitar 45 menit dari Bontang,sekarang bisa lebih lama lagi karena banyaknya ranjau berupa lubang jalanan.

Sedangkan di Samarinda,kota ini sudah dikepung dari segala penjuru oleh yang namanya tambang batubara.Menurut Jaringan Advokasi Tambang,71% dari luas Samarinda telah di kapling leh tambang batubara.Dampaknya? banyak lahan pertanian dan perkebunan milik rakyat tersingkirkan,kerusakan lingkungan yang parah,pencemaran lingkungan,banjir di setiap tahun yang tak kunjung teratasi.Tercatat 839 hektar luas lubang dan bongkaran tanah sebagai akibat pertambangan yang kini di biarkan begitu saj oleh perusahaan tambang.

Di Tenggarong (Kutai Kertanegara) lain lagi.Seperti halnya Samarinda,daerah ini juga kaya akan tambang batubara.Dan seperti halnya juga Samarinda,pertambangan di daerah ini juga menceritakan ironinya.Hanya pusat kota saja yang terlihat megah,namun di baliknya seperti menyisipkan nelangsa.Di kecamatan Marangkayu,listrik hanya menyala selama 12 jam.Padahal kecamatan ini dilintasi oleh conveyor yang mengangkut timbunan batubara dari daerah tersebut.Sedangkan pengapalannya terdapat tidak jauh dari kecamatan ini.Jalanan masih sering banjir dan becek jika hujan.Selain itu total terdapat 31 lubang tambang yang terbengkalai,dengan akumulasi total mencapai 838 hektar.Jalanan rusak akibat aktivitas tambang mencapai 22 ruas jalan (Dishub Kaltim)
Lantas kemana semua hasil kekayaan alam mereka? Selama ini kita begitu bangga dengan predikat sebagai penghasil batubara terbesar di dunia.Predikat yang "ter" begitu meninabobokan kita tanpa pernah kita sadari apa yang terjadi di baliknya,tanpa kita pikirkan bagaimana nanti anak cucu kita yang hanya akan mendengarkan cerita romantisme masa lalu tentang predikat "ter" tadi,tanpa pernah tahu dan merasakan..

Mengacu data di British Petrolium Statistical Review,Indonesia hanya memiliki cadangan batubara terbukti sebesar 4,3 miliar ton,atau 0,5% saja dari total cadangan batubara dunia.Padahal China yang notabene memiliki cadangan batubara sebesar 114,5 miliar ton/13,9% total cadangan batubara dunia,malah menjadi tujuan utama ekspor batubara tersebut.Yang artinya China tidak mengeksploitasi habis-habisan batubaranya,mereka saat ini mengimpor untuk mengganti minyak di luar negeri.Mereka malah sibuk mengirimkan perusahaan penambanganya ke penjuru dunia termasuk ke Indonesia untuk mengeksploitasi.Adapun cadangan mereka sengaja mereka simpan.
Dengan rata-rata produksi mencapai 340 juta ton dan ekspor mencapai 240 juta ton (70% dari hasil penambangan),maka cadangan batubara kita akan habis dalam 20 tahun.Nah lo..


Aku seperti membayangkan ketika Christoper Colombus datang ke benua Amerika,dimana penduduk asli setempat hanya melongo melihat kedatangan Colombus dengan armadanya yang mewah dan berpakain bagus,kemudian membawa kekayaan suku indian ke Eropa,sementara penduduk asli masih di biarkan bertelanjang dada dan memakai cawat.

Jadi bisa dilihat dalam pengelolaan kekayaan alam masih banyak ketimpangan di sana sini,trickle down effect masih sebatas slogan pemanis,tanpa ada realisasi yang berdampak signifikan.Mungkin yang lebih tepat adalah trickle nowhere effect (eh bener ya tulisannya ?).Karena dengan kekayaan yang begitu melimpah,tidak sepenuhnya mampu menjadi cerita manis bagi rakyatnya.Mereka tidak pernah tahu kemana kekayaannya mengalir,mereka tidak pernah merasakan sesuatu yang seharusnya bisa mereka rasakan.Yang mereka tahu sekarang banjir sering berkunjung,listrik masih setengah hati menyala,sawah mereka tergusur,sungai mereka tidak sejernih sebersih dulu,jalanan mereka tidak pernah mulus meski negara sudah merdeka.Dan itu semua akibat kekayaan alam milik mereka.Mereka seperti nelangsa di tengah kekayaan.Sangat tidak masuk akal.Inilah yang menurutku awal dari cerita tentang krisis energi di negeri ini.Lha terus apa hubungannya dengan antri bensin tadi..?