Oleh:Hanif Rifai
Bismilllahirohmanirrohim...
Bismilllahirohmanirrohim...
Ketika Albert Einstein berkata bahwa.."Tuhan tidak sedang bermain dadu",sesungguhnya dia tengah menemukan fakta bahwa alam semesta yang teramat luas ini tidak berjalan begitu saja secara kebetulan seperti yang di percayai para penganut Darwinisme dengan teori evolusinya.Sebuah pengakuan eksistensi Tuhan dari perspektif sains.Pergerakan matahari,bulan dan bintang dan semua yang ada,semua mengandung keseimbangan dan akurasi luar biasa yang berpresisi tinggi,meleset nol koma sekian saja maka tercerai berailah semua yang ada di alam semesta.Dengan kata lain Tuhan tidak menciptakan kehidupan dengan serampangan,semua sudah memiliki ukuran dan perhitungan masing-masing,termasuk kita,manusia dan kehidupannya.
Benarkah demikian?benarkah semua kehidupan yang ada sudah ada dalam keseimbangan dan ideal?Jika dari perspektif sains kita bisa melihat "campur tangan" Tuhan,bagaimana dengan kehidupan manusia yang juga merupakan bagian dari ciptaanNya?
Tayangan televisi "Orang Pinggiran" menjadi awal pertanyaan seorang teman,jika memang Allah swt itu ada,mengapa Dia seperti membiarkan makhluknya berada dalam kesulitan yang seolah tiada tara?Bukankah mereka adalah kaum yang lebih membutuhkan dibanding para koruptor yang seolah bisa mengatur dunia dengan jari telunjuknya?Ketika kaum orang pinggiran berjibaku memprtahankan hidup,para penjahat berdasi seolah selalu menemukan kemudahan dalam hidupnya?trus dimana letak peranan Allah swt bagi kaum orang pinggiran?Dimana letak Maha Pengasih dan Maha Penyayang Allah swt bila kita menatap orang seperti mereka?Jika Allah swt bisa menciptakan matahari yang berukuran kira-kira 1,3 juta kali bumi,mengapa Allah swt tidak mampu menciptakan sekeping saja kebahagiaan bagi kaum orang pinggiran?
Apakah sudah disebut adil dan ideal jika Kinah,seorang bocah yang baru berusia 7 tahun harus menjadi pemecah batu demi membantu orang tuanya menyambung tali kehidupan?bukankah idealnya bocah seusia itu sedang asyik sekolah dan bermain bersama teman-temannya?.Apakah disebut ideal jika Drajat,seorang kakek renta masih harus mengayunkan lengannya yang renta demi sebutir nasi sebagai pencari kepiting dengan penhsilan 4000 rupiah?,bukankah idealnya usia senja adalah masa dimana mereka beristirahat?adilkah itu?..hmmm pertanyaan yang menarik.
Mungkin aku tidak memiliki kapasitas yang tepat untuk menjawab pertanyaan yang memerlukan pemikiran kelas sufi seperti itu,tapi aku juga tidak mau terlarut dengan pemikiran dan pertanyaan yang memang secara sekilas "masuk akal" seperti itu.Dengan pemikiran kelas buruh kecil kucoba menulis jawabannya.
"Tidak hal yang buruk yang datang dari Allah swt,hanya ketidakmampuan manusia memahami misteri otoritas kehendakNya yang melahirkan kesalahpahaman".
Sebuah kalimat yang mungkin klise,yang diucapkan oleh Muhammad Ibnu Jabir Ibnu Sina Al Batani,seorang astronom muslim abad ke 10,namun bagiku mengandung makna yang dalam.Bagaimana mungkin Allah swt yang memiliki sifat Maha Pengasih dan Maha Penyayang tega melukai makhluknya?.Namun sebagai makhluk yang teramat lemah,dengan cara apa kita menentang keputusanNya?.Tidak ada.
Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dan apa yang seharusnya terjadi.Semua mutlak merupakan domain kekuasaan Allah swt.Mengatur "apa yang seharusnya terjadi "merupakan sikap yang meragukan sifatNya dan sikap yang sok tahu terhadap kekuasaan Allah swt.Kita tidak pernah tahu dengan apa yang akan terjadi kelak dengan Kinah atau Mbah Drajat.Dalam pandangan kita,semua yang ada pada mereka terasa menyesakkan dada dan mengusik nilai nurani kemanusiaan,tapi apakah kita tahu apa yang akan terjadi nanti?Jangankan Kinah atau mbah Drajat,menebak di toilet mana kita kencing esok hari saja kita tidak mampu
Berapa banyak tokoh dunia yang dilahirkan di ranjang kemiskinan,namun mampu mengubah wajah peradaban dunia?Tidak ada yang pernah tahu seorang bocah yang dianggap bodoh ketika dewasa mampu menjadi ilmuwan yang dianggap terbesar di abad ke 20,Albert Einstein.
Jadi,mendeviasi dan memvonis masa depan dari apa yang kita lihat sekarang seolah menjadikan kita sebagai Tuhan gadungan.
Jika saja Allah swt mampu mengatur alam semesta yang memiliki jarak dari ujung ke ujungnya mencapai 30 milyar tahun,yang sampai detik ini tidak pernah terjadi trouble,mengapa Dia tidak mampu mengatur manusia di bumi yang teramat kecil ini?.Terkadang kita(termasuk aku)hanya melihat perjalanan hidup hanya sebatas hitam dan putih dengan apa yang telah terjadi.Terlalu sulit bagi kita untuk mencerna bahwa setiap saat Allah selalu melimpahkan rahmat kepada kita bahkan lewat kejadian yang tidak menngenakkan sekalipun.
Saat peristiwa tidak menyenangkan terhampar didepan mata,ungkapan seperti.."sabar ja.pasti ada hikmahnya" akan menjadi sebuah ungkapan yang klise dan(menurut bahasa anak gaul) lebay,karena ungkapan seperti itu seringkali kita dengar.Tapi sesungguhnya dibalik ungkapan tersebut tersimpan makna keikhlasan kita mengakui eksistensi Allah swt dibalik semua peristiwa.
Bertahun-tahun aku pernah mengalami peristiwa ketika aku memprotes keputusanNya,yang tidak segera mengabulkan keinginannku.Tapi dari sikap protesku tersebut,tidak pernah menghasilkan apa-apa,bahkan Dia masih memberikan semua rahmatNya.Bertahun-tahun kemudian aku menyadari,jika saja dulu Allah mengabulkan keinginanku,maka aku tidak akan pernah memiliki Zafir dan juga istriku sekarang,bisa jadi keadaan akan lebih memburuk.
Kehidupan yang lebih baik harus tetap diperjuangkan.Mungkin yang menjadi masalah adalah ketika semua tidak bersesuaian dengan keinginan kita,mungkin hati kita perlu lebih merendah untuk bisa memahaminya.Tetap mendongakkan hati,dengan memprotes dan mempertanyakan keputusanNya adalah sebuah sikap yang hanya menjauhkan kita dari jalan keluar.
Di zaman yang serba hedonis,permisif dan liberal seperti sekarang,terkadang semangat spiritualistik seperti itu menjadi sesuatu yang asing,lebay,klise,pembelakangan intelektualitas dan kejanggalan logika.Namun itu juga bukan pendapat yang aneh,karena seperti yang dikatakan al Battani,tidak ada manusia yang mampu menjelajahi langit misteri otoritasNya.Hingga banyak kita yang salah paham dalam menafsirkan kehendakNya.Tapi adakah jalan lain yang lebih menjanjikan jalan terang?
Namun ada baiknya kita jangan sampai terjebak dalam kesan bahwa kita lebih tahu dari Allah swt,karena memang Allah swt tidak sedang bermain dadu.
Wallahualam