Selasa, 29 Maret 2011

KISRUH PSSI,PERTARUNGAN POLITIK ATAU NURANI?

Negara geger!!bukan karena rencana pemerintah menaikkan harga bbm bersubsidi,bukan karena teror bom di mana-mana,juga bukan karena indonesia sebagai negara maritim malah kebanjiran ikan asin impor.Masalah sosial politik yang terjadi,mungkin sudah membuat masyarakat jengah dan apatis,terserah mau di bawa kemana arah negara ini,yang penting bagaimana saya besok bisa dapat rejeki yang halal untuk anak istri.Begitu mungkin pemikiran sebagian masyarakat yang sudah berada di titik jenuh penantian akan perbaikan bangsa yang tak kunjung terjadi.
Tapi kali ini negara geger karena PSSI!Ya,kali ini giliran organisasi pimpinan Nurdi Halid (NH) ini yang membuat para penganut gila bola meradang.Soal kronologis kegeraman mayarakat bola terhadap Nurdin Halid,mungkin sudah banyak media yang lebih tuntas mengupasnya.Dan puncaknya adalah kekisruhan yang terjadi dalam Kongres PSSI di Riau 26/03/2011 lalu.PSSI jadi terbelah,yang pro status quo bertekad mati-matian mempertahankan singasananya,apapun cara dan statemennya.Sedangkan yang merasa sudah muak dengan kepemimpinan NH,dan merasa memiliki hak suara juga menabuh genderang perang dengan tetap melanjutkan kongres untuk memilih anggota Komite Pemilihan dan Komite Banding,untuk selanjutnya memilih Ketua Umum PSSI yang baru.


Suasana semakin memanas ketika menpora yang merupakan representasi pemerintah turun gunung untuk memberikan kalimat saktinya bahwa PSSI di bawah kepemimpinan NH tidak di akui lagi.Selesai?..hohoho..belum bung,kubu NH semakin kebakaran jenggot karena merasa kekuasaannya benar-benar terdesak..Mereka benar-benar makhluk yang pantang menyerah (tipikal khas pengusaha sukses dan cerminan gen nenek moyang warga Sulawesi yang terkenal dengan keberaniannya mengarungi lautan di masa lalu).Kubu NH dalam peryataannya malah meminta presiden untuk mencopot menpora karena dianggap tidak lagi layak menjabat sehubungan dengan titahnya tidak mengakui PSSI versi NH lagi.Dan hebatnya kubu NH pun tidak sudi mengakui kepemimpinan menpora yang menaungi seluruh cabang olah raga di bumi Indonesia,dan menyiapkan pengacara handal untuk menggugat menpora.Tangguh kan mental NH cs..??


Sedangkan nun di luar sana bisa saya pastikan,ribuan penggemar bola tanah air berdiri di belakang pemerintah.Sudah sejak lama nurani suporter sepak bola terkoyak dengan era NH di PSSI.Menurut mereka sudah terlalu banyak dosa yang di buat oleh kubu NH,sementara prestasi timnas sepak bola jalan di tempat.
Untuk pertama kalinya pemerintah melakukan kebijakan yang begitu populis dengan lebih mendengarkan jeritan nurani para suporter bola yang selama ini terabaikan.
Dalam kondisi sekarang bisa di katakan posisi PSSI NH di kepung dari segala penjuru.Mulai semua suporter bola,pemerintah,,LSM (khususnya ICW yang getol mendorong NH di ajukan ke meja hijau untuk di adili atas kasus dugaan korupsi),bahkan anggota PSSI sendiri.Kredibilitas PSSI benar-benar jatuh terlentang,kecuali mereka yang pro dengan status quo.


Mungkin terlalu jauh mengatakan ada intrik politik dalam kasus kisruh PSSI ini.Tapi bukan tidak mungkin hal ini benar adanya.Menpora adalah representasi pemerintah yang kini tengah berkuasa(Partai Demokrat),sedangkan PSSI di pimpin oleh salah satu anggotai partai politik yaitu Golkar.Bukankah 2 partai itu tergabung dalam koalisi?.Benar,tapi ingatkah kita dengan"kenakalan"partai Golkar dalam sidang hak angket kasus mafia pajak kemarin karena di anggap melanggar kontrak koalisi?yang membuat politisi Demokrat mencak-mencak?yang membuat kredibilitas Demokrat anjlok di mata masyarakat?
Meskipun kasus itu redup perlahan dengan sendirinya,tapi tidak bisa di pungkiri aroma sangit bekas mesiu pertempuran di parlemen kemarin masih tercium.Bisa jadi kini Demokrat memegang senjata ampuh untuk menyerang balik secara halus partai Golkar lewat kisruh di PSSI.Karena mungkin tidak sedikit politisi Demokrat yang kemarin kecewa dengan sikap Presiden yang membatalkan Reshuffle menteri dari partai Golkar,yang menurut mereka sudah berbuat nakal di parlemen.Dan sekarang adalah momentum yang tepat bagi Demokrat untuk melancarkan langkah balasan.


 Ibarat bermain catur,langkah Demokrat begitu cantik,dengan tidak mau secara frontal menyerang,tapi memilih menunggu dan memberi kesempatan NH (Golkar) untuk memainkan bidak catur terlebih dahulu yaitu penyelenggaraan Kongres.Menpora tahu,bahwa kongres tidak akan berlangsung mulus karena resistensi masyarakat dan sebagian anggota PSSI terhadap NH begitu kuat,sedangkan kubu NH pasti akan mati-matian mempertahankan wilayahnya.Nah ketika Kongres menjadi benar-benar deadlock,maka Menpora langsung mengeluarkan langkah-langkah untuk menggempur pertahanan NH cs
Dengan dukungan hampir semua masyarakat pecinta bola,yang merupakan hampir mayoritas rakyat Indonesia,Demokrat seperti memiliki pasukan yang legitimate untuk memborbardir pertahanan kubu NH yang merupakan representasi Golkar.Dengan berpihak kepada pecinta bola maka kredibilitas Demokrat yang sempat jatuh bisa sedikit terselematkan.
Sempat ada analisis pengamat yang mengatakan bahwa kekisruhan Kongres kemarin sengaja di desain oleh kubu NH,agar bisa mengulur waktu untuk melobi anggota-anggotanya yang berkeinginan membelot.Hal ini di perkuat dengan statemen pejabat FIFA menyatakan selalu di halang-halangi untuk memantau jalannya kongres,setelah PO PSSI di tolak oleh FIFA.Kalaupun analisis ini benar adanya,maka bisa dikatakan itu adalah blunder terbesar yang dilakukan oleh kubu NH,ibarat memberikan bola ke musuh di dekat garis gawang.


Kalaupun ada juga umor yang menyebutkan sebenarnya NH sudah berniat mundur dalam kongres,mengapa sekarang kubu NH malah ngotot mengangkat senjata dengan menggugat pemerintah?bukankah itu tindakan konyol?atau karena NH merasa terdholimi?jika merasa terdholimi bagaimana perasaan NH ketika Final Piala AFF lalu sempat berniat menaikkan harga tiket masuk?meski akhirnya di batalkan,tapi ada embel-embel.."itu atas perintah atasan saya,yaitu ketum Golkar".Bukankah itu sama saja tidak menghargai pemerintah (presiden SBY) yang sempat meminta menurunkan harga tiket,tapi di tolak NH.Juga tidak menghargai masyarakat pecinta bola yang juga merasa keberatan dengan kenaikan harga tiket?


Apapun itu,genderang perang sudah di tabuh,amunisi sudah di siapkan,pasukan suporter sudah berada di garis depan untuk mengawal langkah pemerintah memperbaiki PSSI.PSSI yang selama ini merasa hidup di planet lain harus memutar otak dan strategi untuk menyelematkan posisinya yang kian terdesak.


Tinggal kita tunggu bagaimana hasil akhirnya nanti..Jika pemerintah berhasil membawa perubahan di tubuh PSSI ke arah yang lebih baik,maka itu bukan saja kemenangan suprter dan pemerintah semata (Demokrat),bukan saja kemenangan politik tapi juga kemenangan hati nurani.
Tapi jika politisasi kembali bicara,semisal ketum Golkar ikut turun gunung dan berhasil melobi pemerintah untuk gencatan senjata,maka impian akan mengembalikan PSSI ke khitahnya sebagai alat pemersatu bangsa akan semakin berada di titik abu-abu.Karena kita harus ingat kenakalan Golkar dalam angket mafia pajak  kemarinpun tidak mampu menggoyahkan kedudukan Golkar dalam koalisi


Lepas dari itu mungkin ada baiknya kita tidak terlalu berburuk sangka terhadap pemerintah yang sudah sudi turun ke bumi untuk  mendengarkan jeritan nurani masyarakat pecinta bola.Perlu kita apresiasi usaha pemerintah untuk (sementara ini) menyelamatkan persepakbolaan nasional.Meskipun harus melalui jalan yang terjal dan berliku.


Wallahuallam.







Senin, 28 Maret 2011

ANTARA LOYALITAS dan BALAS BUDI

Paolo Maldini dan Franco Baresi adalah sebuah simbol loyalitas tanpa batas.Sepanjang karier sepak bolanya(20 tahunan) mereka tidak pernah berpindah klub.Bukan karena tidak ada klub yang mengincarnya,tapi karena 2 kata,CINTA dan LOYALITAS.Jangan tanyakan berapa banyak daftar klub yang mengantri untuk mendapat tanda tangan mereka,atau kalo mereka mau mereka tinggal menuliskan sejumlah angka di sebuah cek kosong untuk menuliskan gaji yang mereka inginkan jika mereka mau pindah klub.Cek kosong dan daftar antri klub menunjukkan bagaimana kualitas mereka,tapi tidak sedikitpun terbersit di benak mereka untuk meninggalkan klub yang sudah mereka perkuat sejak masih anak-anak.Bahkan Franco Baresi tidak juga mau berpindah klub ketika AC Milan terdegradasi ke di divisi 2 karena kasus suap pengaturan skor di tahun 1982.Bersama AC Milan mereka berdua sudah meraih hampir semua hal yang dinginkan pesepakbola,yaitu gelar juara baik domestik maupun Eropa.

Sementara nun jauh di sana di belahan bumi Inggris terdapat nama Paul Scholes,Ryan Giggs,Gary Neville yang mengabdikan dirinya di klub bernama Manchester United selama kurang lebih 16 tahunan.Mereka juga tidak pernah berganti klub sepanjang kariernya.Juga di Liverpool akan kita temui 2 nama Steven Gerrad dan Jammie Carragher,atau Chelsea dengan John Terry nya.Sama halnya dengan Maldini & Baresi,semua nama di atas juga sudah pernah merasakan hampir semua gelar juara bergengsi untuk level klub.
Namun jangan lupakan sebuah nama yaitu Matthew Le Tissier.Pesepak bola satu ini juga mempunyai kisah yang mirip dengan legenda-legenda di atas.Mathhew Lee Tissier mempekuat klub yang sama yaitu Southampton FC hampir selama 16 tahun,baik ketika Southampton bermain di divisi 1 maupun divisi utama.
Soal kualitas seorang Lee Tissier jangan dipertanyakan,sebagai gelandang serang yang juga piawai bermain di sayap torehan golnya yang menunjukkan angka 210 gol dari 540 pertandingan cukup untuk mendiskripsikan soal skillnya.Saya pribadi menggambarkan skill Le Tissier seperti perpaduan antara Steven Gerrad dan Joe Cole,bertenaga namun punya olah bola yang yahud.Saya termasuk penikmat sepak bola yang beruntung sempat menyaksikan aksinya kala itu.Namun saya mungkin juga termasuk salah satu orang yang memiliki keheranan mengapa tidak ada klub besar yang merekrutnya kala itu.Lagi-lagi jawabannya adalah soal CINTA dan LOYALITAS.Padahal selama 16 tahun membela Southampton FC tidak pernah ada gelar juara bergengsi baik lokal maupun Eropa yang mampir di lemari klub!

Bila di tarik ke masa sekarang ,masih relevankah loyalitas dan cinta dengan kondisi dunia yang ada?Soal relevan atau tidak tergantung sudut pandang mana kita menilainya.Jika kita melongok ruang sepak bola,maka akan kita temui nama-nama Roberto Baggio,Andry Shevchenko,Gabriel Batistuta,Fernando Torres,Leonardo,Ashley Cole.Mereka semua berganti seragam klub untuk memenuhi keinginannya menambah gelar di curricullum vitae nya,atau sekedar menambah nominal pundi-pundi kekayaannya,atau mungkin ingin berganti suasana,entah suasana rekening dompetnya ataupun suasana meriahnya meraih gelar juara,atau bisa juga suasana kenikmatan bermain sepak bola.Karena sebagai seniman lapangan hijau,kadang antusiasme bermain berbanding lurus dengan kemampuan mengeluarkan kemampuan terbaiknya(kinerja).Tapi itulah yang namanya profesionalisme,apapun keputusan yang diambil,mereka berhak untuk mendapatkan yang terbaik dari hidup mereka sesuai persepsi masing-masing individu,meski kadang cap pengkhianat menjadi lebel mereka.Soal gagal atau berhasil itulah konsekuensi dari pilihan mereka.

Sekarang mari kita tarik masalah ini ke dunia kerja secara global.Sebenarnya tulisan ini berawal dari kegundahan saya melihat sebuah peristiwa.Yaitu ketika beberapa karyawan dari sebuah perusahaan A pindah ke perusahaan B untuk mendapatkan penghasilan yang lebih baik (menurut mereka).Alasan klasik yaitu penghasilan selalu melahirkan berbagai macam komentar.Yang pro berkata "pergilah semoga cita-citamu tercapai",sedangkan yang kontra berkomentar"dasar tak tahu balas budi,perusahaan sudah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk mendidik,menyekolahkan eh begitu sudah pandai malah pindah",ada juga yang berkata"sudah ganti saja perusahaan ini menjadi dinas sosial",bahkan ada yang berkomentar dengan membawa nilai spiritual,yaitu"..mereka mungkin tidak bersyukur atas yang sudah mereka dapat selama ini.."..hmm.
Saya berusaha untuk tidak dalam posisi yang menghakimi ataupun membela para pekerja yang berpindah tempat kerja.Tapi yang ingin saya katakan adalah bukankah UUD 1945 menjamin hak warganegara untuk mendapat pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan?.Ketika pemerintah belum sepenuhnya mampu untuk menyediakan lapangan pekerjaan yang layak bagi kemanusiaan,apa yang harus mereka lakukan kecuali berusaha dengan tangan sendiri untuk mendapatkan penghasilan yang layak bagi kemanusiaan.Mungkin ada baiknya kita tidak terburu-buru mengatakan bahwa mereka kurang memiliki rasa syukur atas yang mereka dapatkan.
Karena yang fakta yang terjadi tidaklah sesederhana itu.Begitu banyak faktor yang mempengaruhi keputusan mereka,meskipun ujung-ujungnya adalah"penghasilan".
Ketika sebuah perusahaan sudah memberi bekal karyawannya dengan ilmu dan ketrampilan,mungkin di sinilah faktor pengikat sebuah perusahaan atas karyawannya,yaitu balas budi.Tapi ketika perusahaan tidak juga mampu atau belum mampu memberi standar kepuasan penghasilan yang layak bagi kemanusiaaan(sang karyawan) apakah salah mereka mengalihkan perhatiannya ke pihak lain yang di rasa mampu memberi apa yang mereka cari?.Jika itu adalah salah,apakah penyebabnya?Apakah ilmu dan ketrampilan tadi bisa di jadikan alasan  untuk kita mengatakan mereka tidak tahu balas budi?Jika ya ,maka pertanyaan selanjutnya ,sampai kapan balas budi itu bisa di lunasi?Sepanjang sejarah manusia tidak pernah ada standar baku tentang pelunasan balas budi,kapan,apa,dan bagaimana balas budi itu bisa selesai.Karena balas budi selalu berhubungan dengan rasa dan etika.Untuk etika mungkin bisa kita ukur,tetapi untuk rasa kita tidak akan pernah mampu menjabarkannya seperti rumus baku dalam fisika,seperti halnya mengapa kita memiliki rasa cinta terhadap istri dan keluarga kita.Karena rasa bukanlah sebuah materi.

Berarti mereka adalah manusia yang kurang bersyukur atas yang mereka dapat.Benarkah..?Belum tentu juga..karena agama pun mengajarkan kita untuk bekerja di dunia seolah-olah kita hidup selamanya,bahkan Rasulullah SAW mengingatkan kita untuk sebisa mungkin menjauhi kafakiran,karena kefakiran itu dekat dengan kekufuran.
Jadi bagaimana?Ada baiknya masing-masing pihak saling instropeksi.Untuk perusahaan tidak seharusnya merasa sudah menanam budi mereka bisa menuntut loyalitas secara hitam putih,perlu di adakan kajian-kajian untuk mengungkap mengapa karyawan bisa sampai pindah.Kalau memang profit menjadi alasan mereka berganti seragam,sudahkah mampu perusahaan memberi profit yang sesuai?
Karena tidak setiap manusia mampu menyerupai Matthew Lee Tisiier,yang tetap loyal kepada klubnya meski tidak pernah mendapat gelar juara.Kalaupun Paolo Maldini mampu bertahan di AC Milan selama 20 th karena bersama Milan,Maldini sudah bisa mereguk nikmat berbagai gelar juara yang diidamkan pesepak bola.Apa yang di akan di cari Maldini jika bergabung dengan klub lain jika semua sudah bisa di dapatkan di klub yang dia bela?
Jika saja Maldini pernah pindah klub,pasti alasannya adalah profit.Nah jika kasus yang sama terjadi pada karyawan yang berpindah seragam,barulah kita bisa mengatakan bahwa mereka kurang bersyukur atas yang mereka dapat.Ketika perusahaan sudah mampu memberi apa yang karyawan tsb cari mengapa harus pindah?
Disinilah perusahaan bisa mengkomplain karyawan tersebut.
Namun tetap saja masalah loyalitas dan balas budi adalah masalah rasa yang tidak pernah bisa kita ukur secara pasti,masing-masing tergantung bagaimana individu menyikapi jalan hidupnya.Seperit halnya ketidakmengertian saya mengapa Matthew Lee Tissier tidak juga berpindah klub,maskipun nihil gelar.
Masing-masing memiliki argumen yang akan selalu diperdebatkan..entah sampai kapan..

Wallahualam






Rabu, 23 Maret 2011

ISLAM DI INDONESIA,DALAM AGRESI KAUM SEPILIS


"...negara sekuler bisa menampung energi kesalehan dan energi kemaksiatan sekaligus"
(Ulil Abshar Abdala,Tempo,November 2001)

Usia paham sepilis (sekulerisme,pluralisme,liberalisme) jauh lebih tua dari usia Republik ini.Sejarah mencatat paham ini lebih banyak berbenturan dengan kaum muslimin.Salah satu"kemenangan" yang monumental dari kaum sepilis terhadap umat muslim adalah di hapuskannya 7 kata dalam Piagam Jakarta,menjadi Pancasila yang kita kenal sekarang ini.
Dengan pergerakannya yang sampai tingkat elit,maka dari itu tidak mengherankan bila paham ini bisa langgeng sampai sekarang,meski kadang gerakannya cenderung seperti perang gerilya yang muncul dan menghilang secara tiba-tiba.

20 tahun lalu ketika saya masih bersekolah di SD saya pernah di buat bingung oleh mata pelajaran PMP,yang salah satunya mengajarkan kapada kami bahwa semua agama itu sama dan baik di mata Tuhan.Titik.
Di sisi lain agama yang saya anut,islam,mengajarkan bahwa agama kamilah yang paling sempurna.Kadang saat itu saya berpikir kalau semua agama itu sama,berarti saya bisa dong pakai agama lain,toh intinya sama.Menginjak SMP guru agama Islam kami,Bpk Harsono memberi penjelasan yang bisa menjawab kebingungan saya,beliau mengatakan bahwa semua agama itu memang baik,tapi ada "komanya"bukan lantas "titik".Semua agama itu sama dan baik,(koma)tapi menurut agama masing-masing.(titik),begitu menurut beliau.

Beberapa tahun kemudian barulah saya sadar bahwa apa yang membuat saya bingung di waktu SD ternyata adalah paham yang di sebut pluralisme.Dari pengalaman saya tersebut bisa kita bayangkan betapa berbahayanya paham tersebut,karena dapat menggoncang akidah seorang bukan saja umat muslim namun juga bagi pemeluk agama lain,dan selalu menempatkan dirinya dalam keragu-raguan.

Keran era reformasi yang di buka lebar-lebar tahun 1998 seperti menjadi gerbang tol bagi paham ini untuk secara terang-terangan menunjukkan eksistensinya.Bergandengan erat dengan sekulerisme(memisahkan agama dgn kehidupan baik pribadi/bernegara) dan liberalisme(paham kebebasan),trio paham ini (yang kita singkat menjadi "SEPILIS"),melaju kencang seolah mengejar ketertinggalannya untuk berusaha kembali menjadi bagian dalam kehidupan Republik ini.
Paham ini kemudian bermetamorfosa dalam kata-kata yang terasa indah di dengar seperti HAM,persamaan/kesetaraan,kebebasan,keadilan,toleransi dll.
Paham ini pun mulai berani secara terang-terangan muncul ke permukaan melalui LSM-LSM yang kian menjamur seperti cendawan di musim hujan.Di motori oleh JIL (Jaringan Islam Liberal),paham ini mulai berusaha merasuk ke dalam sendi-sendi kehidupan di Indonesia melalui setiap sudut strategis termasuk media-media masa yang bersedia bekerja sama dengan mereka.

Mereka kembali mengkampanyekan sekaligus menawarkan ideologi baru (yang sebenarnya sudah usang) untuk kehidupan bernegara yang lebih baik (menurut mereka).Sebuah harian di Jawa Timur dan jaringannya yang ada hampir di seluruh Indonesia pernah menjadi mimbar bagi gerakan kaum sepilis untuk berkhotbah dengan cara menerbitkan pemikiran-pemikiran mereka melalui rubrik yang dimuat seminggu sekali dalam 1 halaman penuh.Mereka juga menyasar media yang paling murah dan familier bagi masyarakat,yaitu radio.Melalui stasiun radio 68H jakarta,radio ini berhasil meyakinkan ratusan stasiun radio lainnya di seluruh Indonesia untuk me-relay siaran mereka.Tidak ketinggalan,mereka juga memiliki website di dunia maya dengan alamat http://islamlib.com/id

Tidak hanya media massa yang menjadi sasaran,tapi juga lembaga pendidikan Islam seperti IAIN,partai politik,bahkan 2 organisasi Islam terbesar di Indonesia yaitu NU dan Muhammadiyah tidak luput dari susupan mereka.Dan sejauh ini meski minoritas kaum sepilis ini sudah menjangkau berbagai kalangan,dari kalangan akar rumput sampai tingkat elit,bahkan kalangan muslim sendiri.Setelah bisa menguasai berbagai kalangan,kini mereka tinggal menunggu (kadang menciptakan) moment-moment yang tepat untuk melancarkan serangan dengan jurus-jurus sepilisnya.
Kita bisa melihat gerakan mereka secara gamblang bila terjadi peristiwa kekacauan yang berbau SARA,khususnya bila melibatkan umat Islam di dalamnya.
Saat itulah mereka masuk,lalu menyampaikan pendapatnya dengan menjatuhkan umat muslim.Di saat bersamaan mereka menawarkan pahamnya sebagai solusi yang jauh lebih baik.Persis tukang obat yang tengah mengobati pasien yang sudah sekarat di hadapan massa sambil menjatuhkan rivalnya sesama tukang obat.

Sebagai contoh kerusuhan di Cikeusik dan Temanggung beberapa waktu lalu.Sesaat setelah kerusuhan berlangsung media langsung menulis/memberitakan umat islam menyerang jemaah Ahmadiyah.Titik.Ingat saat itu penyelididkan kepolisisan masih baru saja di mulai,jika hukum kita menganut asas praduga tak bersalah mengapa vonis sudah di jatuhkan di saat penyelidikan belum selesai?
Disinilah kelihaian kaum sepilis,mereka segera memanfaatkan momen untuk kembali unjuk gigi.Bisa kita lihat judul -judul yang ada di media masa.."Ahmadiyah di serang 3 orang tewas","Ahmadiyah di serang 242 kali","Tragedi Ahmadiyah" dll.
Semua tulisan yang ada seperti menggiring opini publik kepada stigma bahwa Islam hanya berbicara masalah neraka,pedang,teroris,kekerasan,darah,pemaksaan kehendak,tidak toleran dan penyampaiannya (sekali lagi) tanpa menunggu kasus itu selesai.

Masih belum cukup,para pengusung paham sepilis ini juga hadir di stasiun televisi sebagai nara sumber,di saksikan jutaan rakyat Indonesia menyampaikan hal yang sama juga,bahwa Islam adalah agama kekerasan.
Yang menjadikan ironis,bahkan sangat ironis adalah semua pendapat tersebut disampaikan oleh para cendekiawan,individu yang terhormat,memiliki pengaruh dan massa dan mereka beragama Islam!


Tidak melulu melalui moment berbau SARA,pengusung paham sepilis juga hadir lewat jalur budaya,seperti musik dan film.Dengan dalih kebebasan berekspresi mereka menyajikan karya yang secara terselubung sarat dengan pesan sepilis.Seperti film "Perempuan Berkalung Sorban" yang dengan masif menggambarkan Islam sebagai sebuah agama yang kotor,menjijikkan,tidak beradab,kumuh.Pada dialognya ada yang malah mengadosi sebuah cerita dari kitab agama lain.Dan (lagi-lagi) sutradara film ini adalah seorang muslim.
Salah satu atasan di tempat saya bekerja yang juga seorang muslim pernah berkata kepada saya.."..jika kita ingin berbicara tentang kerukunan umat beragama,maka kita harus sejenak melepas islam dari diri kita agar kita bisa berpikir jernih dan netral".Karena beliau adalah atasan saya,saya berusaha menjawab sesopan mungkin.." sampai saya menutup mata saya tidak akan melepaskan Islam dari diri saya pak sedetikpun".
Karena jika hanya untuk bicara masalah kerukunan umat beragama,14 abad yang lalu jauh sebelum para pemimpin kita merumuskan hal itu,Islam (dalam hal ini Rasulullah saw) sudah memberi contoh bagaimana kerukunan beragama di aplikasikan dengan baik dan tanpa gejolak yang berarti di Madinah.Dalam hati saya juga berkata.."kalo kita lepaskan sesaat islam dalam diri kita ketika bicara masalah kerukunan tsb,trus mati?berarti kita mati dalam  di luar Islam?".

Saya pribadi tidak pernah tahu apa motif yang sebenarnya dari gerakan kaum sepilis ini.Saya juga tidak pernah tahu mengapa hanya Islam yang menjadi sasaran .Tapi ucapan saudara Uil Abshar Abdalla (sekarang menjabat juga sebagai ketua Departemen Pengembangan Strategi dan Kebijakan Partai Demokrat) di awal tulisan ini mungkin bisa menjadi setitik jawabannya.Mengakomodasi energi kesalehan dan maksiat dalam satu wadah.
Dengan memisahkan agama dengan urusan duniawi,maka kehidupan tidak akan terikat kepada hal-hal yang dilarang/diperintahkan agama.Hidup menjadi bebas sebebas-bebasnya,tanpa ada konsekuensi yang menyertai perbuatan yang di lakukan.Kita di ajarkan untuk memandang agama sesuai dengan cara dan sudut pandang kita masing-masing,bila cocok pakai,kalo tidak buang saja.Agama bukan lagi sesuatu yang sakral,melainkan sesuatu yang bisa di perdebatkan,di koreksi.Kitab suci Al Quran bukan lagi merupakan firman Allah swt,melainkan produk budaya nabi Muhammad saw.Penistaan agama bukan lagi suatu tindakan yang haram,itu adalah wujud kebebasan penafsiran,dan itu adalah hak asasi setiap manusia.Menjadikan wanita sebagai imam adalah hak asasi dan kesetaraan antara pria dan wanita.Goyang ngebor,goyang gergaji atau tarian erotis lainnya di sebut sebagai produk budaya,kebebasan berekspresi,jihad mencari nafkah dan (lagi-lagi) HAM.
Adapun melaksanakan ajaran dan agama Islam adalah sesuatu yang kolot,terbelakang,anti demokrasi,ketinggalan jaman.Dan semua pemikiran itu kadang di ungkapkan oleh individu Islam sendiri!
Tapi jika kita kembalikan,benar-benar kita gali dan buka lubuk hati kita yang paling dalam,mari kita tanyakan pada lubuk hati kita.."benarkah itu semua yang kita cari?"

Dengan bercokolnya penganut paham sepilis di segala lini kehidupan bangsa ini,dari partai politik,pemerintahan,lembaga pendidikan,media masa,organisasi masa,organisasi Islam sendiri.Dan gempuran yang tiada pernah henti dari pemujanya,patut kiranya saya mengkhawatirkan keberlangsungan kehidupan islam di negeri ini di masa depan.Terlebih virus sepilis ini juga menjangkiti pemimpin (yang) agama islam,menjadikannya sulit terdektesi.Dan ingat,keberlangsungan Islam ada di tangan anak cucu kita kelak.Bisakah kita membayangkan bila racun sepilis itu bersarang dalam jiwa anak cucu kita?.Bukan hanya kehidupan Islam yang buram seperti yang terjadi di Turki sejak tahun tahun 1924,melainkan juga berarti kegagalan kita sebagai orang tua yang di amanahi oleh Allah swt akan anak-anak kita.Naudzubillahimindalik.
Wallahua`alam bish shawab

Sabtu, 19 Maret 2011

CERITA TENTANG EMAK (SEBUAH TULISAN UNTUK PARA IBU)

Emak..begitulah aku memanggilnya sejak kecil.Nggak peduli dulu teman2ku mengatakan itu sebuah panggilan yang terkesan ndeso..bagiku sosoknya tidaklah sendeso panggilannya.Bagiku beliau adalah malaikat yang dititipkan Allah untuk menjaga,merawat,membesarkan aku di dunia ini.
Aku tidak pernah ingat,atau tepatnya tidak pernah merasa dan tahu,betapa emak dulu sering terjaga di tengah malam hanya untuk meredakan tangisku ,atau hanya untuk mengganti popokku yang basah karena aku dengan kurang ajar kencing di tempat tidur,padahal kamar mandi sudah dibuatkan oleh bapakku.Aku juga tidak pernah ingat lagi,bahwa emak dulu selalu khawatir bila badanku panas,dan aku menangis tak kunjung henti.Tanpa tidur emak selalu menggendong aku dengan bahasa kasih seorang ibu sampai aku kembali terlelap,tanpa pernah merasa berdosa telah merusak mimpi indah emak.Berjam-jam emak selalu ada di sampingku,hanya untuk memastikan aku tetap merasa nyaman dalam sakitku.Emak tidak pernah berharap ada slip gaji dari siapapun untuk semua pengorbanannya,emak juga tidak pernah menghitung berapa jam yang sudah lewat untuk setiap tangisku,bahkan emak tidak pernah mengadu kepada siapapun untuk semua "penderitaanya" itu.Baginya tidak kata mengeluh untukku,selama aku bisa tersenyum selama itu pula apapun akan diberikan dan dilakukan oleh emak
Namun aku masih ingat..di waktu aku masih kecil dan lucu2nya aku pernah sakit panas hanya karena pengen di belikan kaos bergambar Unyil.Tanpa pernah marah,tanpa pernah mengeluh emak diam2 berusaha secepatnya menjual gabah hasil kerjanya sepanjang hari di tengah panas matahari hanya untuk menuruti keinginan seorang bocah yang sebenarnya jika tidak di turutipun dunia ga bakalan kiamat.Unyil pun ga bakal tahu bahwa ada salah satu penggemarnya yang terkena sindrom Unyilmania akut,kalaupun tahu,yakinlah dia tidak akan pernah merasa terharu apalagi sampai menangis,karena unyil bertempat tinggal nun jauh disana,dan dia hanya sebuah boneka.
Tapi itulah bahasa kasih sayang seorang ibu,betapa Allah menciptakan perasaan itu begitu sempurna,tanpa cacat dan tanpa cela.Terkadang sampai menembus batas2 logika awam.
Beranjak besar sedikit aku juga masih ingat..lagi2 aku sakit panas,dan menangis meraung-raung seperti macan yang kakinya kejepit pintu,tahukah kawan kenapa aku menangis se histeris itu?Ya,lagi2 aku pengen dibelikan kaos,kali ini yang bergambar robot.Lagi2 kaos menjadi biang kerok dan kembali menyusahkan emak.Tapi emak tidak pernah protes ke pemilik toko kaos,lebih2 ke pabrik kaos karena produknya kembali membuatnya kalang kabut.
Aku masih ingat,saat itu aku masih TK.Setelah mengumpulkan uang dari hasil  kerja sebagai pembantu,emak mengantarku ke toko Gajah Mada di Lumajang untuk membelikanku kaos bergambar robot.Dengan uang sebesar Rp 4750,emak berhasil membuat sakit panasku mereda dan menutup mulutku dari raungan yang memekakkan telinga orang sekelilingku(kecuali emakku tentunya).Beranjak dewasa baru aku tahu betapa uang Rp 4750 saat itu sangat besar nilainya.Tapi buat emak,tidak ada yang namanya perhitungan nominal dari rupiah,tidak pernah ada kalkulasi untung rugi bila itu untuk membuat aku tersenyum.
Akupun tidak pernah merasa lupa bahwa dulu emak sering ku buat manangis karena nakalku yang kadang keterlaluan(kadang atau sering?).Emak sering di panggil ke sekolah hanya untuk mendengar cerita dari guruku tentang kenakalanku yang sering memusingkan guru2ku.Tapi tahukah kawan,apa yang dilakukan emak setelah mendengar cerita horror dari guruku tentang aku?Emak hanya tersenyum,dan lalu tangan lembutnya membelai kepalaku,sambil berkata "emak pulang dulu ya..?"Aku yang masih kecil hanya cengar-cengir saja persis beruk sedang di hakimi raja hutan.
Ah..emak..berapapun meter panjang kertas dan berapapun liter tinta pena yang ada di muka bumi ini rasanya tidak akan pernah cukup untuk menuliskan semua bentuk kasih sayangmu kepadaku.Yang sudah dimulai semenjak aku ada dalam rahimmu,menyiksamu selama 9 bulan dengan keberadaanku,lalu engkau mempertaruhkan satu2nya nyawa yang diberikan Allah swt hanya untuk mengeluarkan aku untuk bertemu dunia.Setelah nyawamu hampir melayang untukku,bukan penyesalan yang kau rasakan tapi kebahagiaan..anehkan?Terimasih mak...Terima kasih Ya Allah..
Dalam kasih sayang seorang emakku,tidak pernah berlaku hukum fisika Isaac Newton III,dimana newton menyatakan bahwa gaya yang di berikan sebuah benda  kepada benda lain akan kembali ke benda pertama dengan gaya yang sama besar.
Emak tidak pernah memarahiku meski nakalku sudah kelewatan.Paling emak hanya menangis.Emak paling hanya merasa jengkel,tapi seketika itu pula tangan2 lembutnya merangkulku sambil berkata ".besok jangan di ulangi lagi ya le..?".Meski seharian emak capek dengan pekerjaannya sebagai seorang pembantu,ditambah kebandelan2ku seharian tapi setiap malam emak masih mau menemaniku tidur sambil mendongengkan cerita,sambil sesekali jemari lentiknya membelaiku sampai aku tertidur sambil ngiler tanpa pernah peduli dengan emak yang kembali bekerja.
Itulah emakku kawan..seorang malaikat dalam wujud seorang wanita yang di turunkan oleh Allah swt untukku.Malaikat adalah makhluk Allah swt yang selalu patuh dan taat kepada perintahNya tanpa pernah membantah,protes ataupun komplain.Begitulah emak di mataku,emak tidak pernah protes,membantah ataupun komplain kepada Allah swt atas tugasnya yang maha berat ketika dititipi manusia bernama Hanif Rifa`i.Seribu keburukan yang kulakukan selalu saja kau balas dengan sejuta bahkan trilyunan senyum.
Emak...sekarang engkau terbaring sakit.Selang infus dan kawan setianya yaitu jarum suntik tengah tertancap di kulitmu yang kian renta di makan takdir.Penyakit  itu telah berdiam di tubuhmu menjerat ginjalmu sehingga tidak bisa berfungsi sebagai mana mestinya.Sedang aku jauh di sini tidak bisa menemanimu,merawatmu,menjagamu seperti yang pernah engkau lakukan ketika aku kecil dulu.Mungkin jika ada diadakan survey tentang anak paling tolol.kurang ajar,tidak berbakti..bisa dipastikan aku berada di urutan pertama,kedua,ketiga dan seterusnya,semuanya adalah namaku.
Aku sendiri tidak pernah mengenal yang namanya hari ibu,bagiku amat sangat tidak fair sekali jika kasih sayang ibu yang tercurah setiap detik hanya di balas sekali dalam setahun.Itulah mak..jika engkau tahu kasih sayangku dan cintaku kepada engkau tidak akan pernah terhitung waktu selalu ada setiap saat.Meski aku jauh disini tapi sayang dan cintaku mampu menembus jarak,melintasi laut untuk sampai di keningmu
Cepat sembuh ya mak...aku masih ingin mendengar suara lembutmu meski lewat telepon.Bertahan ya mak,yang kuat ya mak?Zafir cucumu sekarang sudah bisa berlari kesana kemari meski kadang sambil sempoyongan,aku ingin melihat suatu saat Zafir berlari ke arah pangkuanmu sambil mulut cadelnya mengucap"..Embah..embah.." lalu memelukmu,aku ingin melihat engkau menggendong Zafir lalu engkau menciumnya
Meski aku sudah dewasa tapi aku masih ingin kau belai seperti dulu mak,aku masih ingin bertemu dengan sosok luar biasa yang telah mengenalkanku kepada dunia..yaitu engkau mak..Tunggu aku pulang ya mak..?