Paolo Maldini dan Franco Baresi adalah sebuah simbol loyalitas tanpa batas.Sepanjang karier sepak bolanya(20 tahunan) mereka tidak pernah berpindah klub.Bukan karena tidak ada klub yang mengincarnya,tapi karena 2 kata,CINTA dan LOYALITAS.Jangan tanyakan berapa banyak daftar klub yang mengantri untuk mendapat tanda tangan mereka,atau kalo mereka mau mereka tinggal menuliskan sejumlah angka di sebuah cek kosong untuk menuliskan gaji yang mereka inginkan jika mereka mau pindah klub.Cek kosong dan daftar antri klub menunjukkan bagaimana kualitas mereka,tapi tidak sedikitpun terbersit di benak mereka untuk meninggalkan klub yang sudah mereka perkuat sejak masih anak-anak.Bahkan Franco Baresi tidak juga mau berpindah klub ketika AC Milan terdegradasi ke di divisi 2 karena kasus suap pengaturan skor di tahun 1982.Bersama AC Milan mereka berdua sudah meraih hampir semua hal yang dinginkan pesepakbola,yaitu gelar juara baik domestik maupun Eropa.
Sementara nun jauh di sana di belahan bumi Inggris terdapat nama Paul Scholes,Ryan Giggs,Gary Neville yang mengabdikan dirinya di klub bernama Manchester United selama kurang lebih 16 tahunan.Mereka juga tidak pernah berganti klub sepanjang kariernya.Juga di Liverpool akan kita temui 2 nama Steven Gerrad dan Jammie Carragher,atau Chelsea dengan John Terry nya.Sama halnya dengan Maldini & Baresi,semua nama di atas juga sudah pernah merasakan hampir semua gelar juara bergengsi untuk level klub.
Namun jangan lupakan sebuah nama yaitu Matthew Le Tissier.Pesepak bola satu ini juga mempunyai kisah yang mirip dengan legenda-legenda di atas.Mathhew Lee Tissier mempekuat klub yang sama yaitu Southampton FC hampir selama 16 tahun,baik ketika Southampton bermain di divisi 1 maupun divisi utama.
Soal kualitas seorang Lee Tissier jangan dipertanyakan,sebagai gelandang serang yang juga piawai bermain di sayap torehan golnya yang menunjukkan angka 210 gol dari 540 pertandingan cukup untuk mendiskripsikan soal skillnya.Saya pribadi menggambarkan skill Le Tissier seperti perpaduan antara Steven Gerrad dan Joe Cole,bertenaga namun punya olah bola yang yahud.Saya termasuk penikmat sepak bola yang beruntung sempat menyaksikan aksinya kala itu.Namun saya mungkin juga termasuk salah satu orang yang memiliki keheranan mengapa tidak ada klub besar yang merekrutnya kala itu.Lagi-lagi jawabannya adalah soal CINTA dan LOYALITAS.Padahal selama 16 tahun membela Southampton FC tidak pernah ada gelar juara bergengsi baik lokal maupun Eropa yang mampir di lemari klub!
Bila di tarik ke masa sekarang ,masih relevankah loyalitas dan cinta dengan kondisi dunia yang ada?Soal relevan atau tidak tergantung sudut pandang mana kita menilainya.Jika kita melongok ruang sepak bola,maka akan kita temui nama-nama Roberto Baggio,Andry Shevchenko,Gabriel Batistuta,Fernando Torres,Leonardo,Ashley Cole.Mereka semua berganti seragam klub untuk memenuhi keinginannya menambah gelar di curricullum vitae nya,atau sekedar menambah nominal pundi-pundi kekayaannya,atau mungkin ingin berganti suasana,entah suasana rekening dompetnya ataupun suasana meriahnya meraih gelar juara,atau bisa juga suasana kenikmatan bermain sepak bola.Karena sebagai seniman lapangan hijau,kadang antusiasme bermain berbanding lurus dengan kemampuan mengeluarkan kemampuan terbaiknya(kinerja).Tapi itulah yang namanya profesionalisme,apapun keputusan yang diambil,mereka berhak untuk mendapatkan yang terbaik dari hidup mereka sesuai persepsi masing-masing individu,meski kadang cap pengkhianat menjadi lebel mereka.Soal gagal atau berhasil itulah konsekuensi dari pilihan mereka.
Sekarang mari kita tarik masalah ini ke dunia kerja secara global.Sebenarnya tulisan ini berawal dari kegundahan saya melihat sebuah peristiwa.Yaitu ketika beberapa karyawan dari sebuah perusahaan A pindah ke perusahaan B untuk mendapatkan penghasilan yang lebih baik (menurut mereka).Alasan klasik yaitu penghasilan selalu melahirkan berbagai macam komentar.Yang pro berkata "pergilah semoga cita-citamu tercapai",sedangkan yang kontra berkomentar"dasar tak tahu balas budi,perusahaan sudah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk mendidik,menyekolahkan eh begitu sudah pandai malah pindah",ada juga yang berkata"sudah ganti saja perusahaan ini menjadi dinas sosial",bahkan ada yang berkomentar dengan membawa nilai spiritual,yaitu"..mereka mungkin tidak bersyukur atas yang sudah mereka dapat selama ini.."..hmm.
Saya berusaha untuk tidak dalam posisi yang menghakimi ataupun membela para pekerja yang berpindah tempat kerja.Tapi yang ingin saya katakan adalah bukankah UUD 1945 menjamin hak warganegara untuk mendapat pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan?.Ketika pemerintah belum sepenuhnya mampu untuk menyediakan lapangan pekerjaan yang layak bagi kemanusiaan,apa yang harus mereka lakukan kecuali berusaha dengan tangan sendiri untuk mendapatkan penghasilan yang layak bagi kemanusiaan.Mungkin ada baiknya kita tidak terburu-buru mengatakan bahwa mereka kurang memiliki rasa syukur atas yang mereka dapatkan.
Karena yang fakta yang terjadi tidaklah sesederhana itu.Begitu banyak faktor yang mempengaruhi keputusan mereka,meskipun ujung-ujungnya adalah"penghasilan".
Ketika sebuah perusahaan sudah memberi bekal karyawannya dengan ilmu dan ketrampilan,mungkin di sinilah faktor pengikat sebuah perusahaan atas karyawannya,yaitu balas budi.Tapi ketika perusahaan tidak juga mampu atau belum mampu memberi standar kepuasan penghasilan yang layak bagi kemanusiaaan(sang karyawan) apakah salah mereka mengalihkan perhatiannya ke pihak lain yang di rasa mampu memberi apa yang mereka cari?.Jika itu adalah salah,apakah penyebabnya?Apakah ilmu dan ketrampilan tadi bisa di jadikan alasan untuk kita mengatakan mereka tidak tahu balas budi?Jika ya ,maka pertanyaan selanjutnya ,sampai kapan balas budi itu bisa di lunasi?Sepanjang sejarah manusia tidak pernah ada standar baku tentang pelunasan balas budi,kapan,apa,dan bagaimana balas budi itu bisa selesai.Karena balas budi selalu berhubungan dengan rasa dan etika.Untuk etika mungkin bisa kita ukur,tetapi untuk rasa kita tidak akan pernah mampu menjabarkannya seperti rumus baku dalam fisika,seperti halnya mengapa kita memiliki rasa cinta terhadap istri dan keluarga kita.Karena rasa bukanlah sebuah materi.
Berarti mereka adalah manusia yang kurang bersyukur atas yang mereka dapat.Benarkah..?Belum tentu juga..karena agama pun mengajarkan kita untuk bekerja di dunia seolah-olah kita hidup selamanya,bahkan Rasulullah SAW mengingatkan kita untuk sebisa mungkin menjauhi kafakiran,karena kefakiran itu dekat dengan kekufuran.
Jadi bagaimana?Ada baiknya masing-masing pihak saling instropeksi.Untuk perusahaan tidak seharusnya merasa sudah menanam budi mereka bisa menuntut loyalitas secara hitam putih,perlu di adakan kajian-kajian untuk mengungkap mengapa karyawan bisa sampai pindah.Kalau memang profit menjadi alasan mereka berganti seragam,sudahkah mampu perusahaan memberi profit yang sesuai?
Karena tidak setiap manusia mampu menyerupai Matthew Lee Tisiier,yang tetap loyal kepada klubnya meski tidak pernah mendapat gelar juara.Kalaupun Paolo Maldini mampu bertahan di AC Milan selama 20 th karena bersama Milan,Maldini sudah bisa mereguk nikmat berbagai gelar juara yang diidamkan pesepak bola.Apa yang di akan di cari Maldini jika bergabung dengan klub lain jika semua sudah bisa di dapatkan di klub yang dia bela?
Jika saja Maldini pernah pindah klub,pasti alasannya adalah profit.Nah jika kasus yang sama terjadi pada karyawan yang berpindah seragam,barulah kita bisa mengatakan bahwa mereka kurang bersyukur atas yang mereka dapat.Ketika perusahaan sudah mampu memberi apa yang karyawan tsb cari mengapa harus pindah?
Disinilah perusahaan bisa mengkomplain karyawan tersebut.
Namun tetap saja masalah loyalitas dan balas budi adalah masalah rasa yang tidak pernah bisa kita ukur secara pasti,masing-masing tergantung bagaimana individu menyikapi jalan hidupnya.Seperit halnya ketidakmengertian saya mengapa Matthew Lee Tissier tidak juga berpindah klub,maskipun nihil gelar.
Masing-masing memiliki argumen yang akan selalu diperdebatkan..entah sampai kapan..
Masing-masing memiliki argumen yang akan selalu diperdebatkan..entah sampai kapan..
Wallahualam

Tidak ada komentar:
Posting Komentar