26 Mei 1979,saat matahari belum sepenuhnya muncul,engkau,emak,tengah berjuang dengan meletakkan hidupmu di perbatasan antara hidup dan mati.Semua gara-gara jabang bayi yang tengah engkau kandung sudah tak sabar ingin segera berjumpa dunia,dia ingin segera tahu wajah bapak dan ibunya.Dan bayi itu adalah aku mak...ingatkah engkau saat itu mak?.Saat engkau harus kubuat kesakitan karena aku sudah bosan menghuni perutmu?aku yakin engkau tak akan pernah lupa itu mak..
Dan,aiiih...meski nyawamu sempat terancam gara-gara aku,tapi engkau tak pernah marah,menyesal ataupun kecewa.Engkau malah tersenyum lebar melihat kehadiranku.Aneh.Malah kemudian engkau bercerita kepada para tetangga,bahwa engkau sudah melahirkan seorang bayi yang ganteng dan gagah.Padahal sampai aku dewasa nanti,aku tidak pernah mendengar ada orang lain,bahkan kawan-kawanku sendiri yang pernah mengatakan bahwa aku ini ganteng dan gagah,kecuali engkau dan istriku.Tapi engkaupun tak pernah peduli dengan itu semua,bagimu aku adalah sebuah permata yang tak ternilai.
Dan begitulah mak selanjutnya.Maka berlima kita hidup di sebuah rumah mungil pemberian nenek.Bapak,engkau,mas Din,mbak Ut,dan si jagoan neon,aku.Samar-samar aku masih ingat mak,aku harus sering engkau titipkan ke tetangga,karena engkau harus juga bekerja membantu keuangan bapak.Samar-samar aku juga teringat mak,aku kadang datang ke sekolahan tempat engkau berjualan minta jatah kue,aku juga sedikit teringat ketika aku menangis mencarimu,maka tetangga mengantarkan aku ke sawah untuk menjemputmu.Ah...ternyata engkau juga bekerja sebagai buruh tani di panas terik mentari demi kami anak-anakmu.Dan kisah kaos Unyil juga menjadi salah satu hal yang melegenda dalam ingatanku
Aku masih jelas teringat mak,kita memang dulu hidup dalam keterbatasan.Tapi cinta dan kasih sayang yang engkau berikan kepada kami,anak-anakmu,tak pernah mengenal batas.Kau berikan kasih sayang dalam takaran yang sama kepada kami,meski aku adalah anakmu yang paling bandel.Cinta dan kasihmu selalu ada kapan saja dan di mana saja.Selalu mengalir sampai ke jauh tanpa pernah mengenal ujung.
Begitulah hari-hari yang kita lalui.
Sampai di suatu sore.Saat itu bapak terbaring di rumah sakit,engkau sempatkan pulang untuk memandikan aku di sungai belakang rumah.Saat itu aku yang masih kecil,dengan polosnya berkata.."mak,ayo cepat kembali ke rumah sakit,nanti bapak keburu meninggal".Dan benar,tak lama kemudian bapak harus meninggalkan kita semua.Rasanya hanya sekejap kita rasakan kebahagiaan hidup bersama bapak
Aku tak begitu ingat dengan yang terjadi setelah itu,karena kejadian itu berlangsung saat aku masih lucu-lucunya,belum mengerti apa-apa.Yang kuingat aku dengan di gendong Mas Din di ajak keluar menjauh,sementara orang-orang di dalam rumah dengan jenazah bapak.
Menyerahkah engkau mak?tidak!engkau ternyata tak pernah menyerah dengan semua keadaan yang terjadi.Selanjutnya engkau ajak aku pergi ke Lumajang untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga,kau tinggalkan semua kenangan dengan bapak,kau tinggalkan nenek dan mbak Ut di kampung.Semua demi aku....
Di kota inilah kelak aku tumbuh dan besar sampai menjelang dewasa.Kenangan kita selama di Lumajang selalu terpatri di ingatanku mak.Aku ingat saat engkau menyetrika baju sambil engkau gendong aku di punggungmu.Kadang meski sakit kau belain tetap mencuci baju di malam hari,sambil duduk bengong di sampingmu,aku menemanimu.Lalu kau berkata.."ini semua demi kamu le..".Tak pernah kulihat wajah lelahmu,meski pekerjaanmu bejibun.Senyummu selalu kau berikan di balik penat tubuhmu.
Bila aku sakit kau selalu membuatkan telur rebus kesukaanku,saking senangnya sama telur rebus,kadang aku aku ingin sakit biar dibuatkan telur rebus.
Meski nakalku nggak ketulungan,tak pernah kau marahi aku.Yang ada hanyalah senyuman,sambil kau belai rambutku,kau bisikkan harapan-harapanmu padaku.Bila tidur,aku tak pernah bisa jauh darimu,sampai kadang kau harus tinggalkan dulu pekerjaanmu untuk menemaniku tidur,setelah aku terlelap kau kembali bekerja melanjutkan roda hidup kita.
Setiap lebaran menjelang,kau selalu belikan aku baju bagus untuk kupamerkan saat kita pulang ke kampung.Lalu dengan memakai baju baru yang masih bau toko,aku selalu kau ajak ke makam bapak.Sering aku melihat air matamu menetes di hadapan makam bapak.Mungkin engkau terlalu rindu dengan bapak ya mak?
Menjelang SMP,kau harus meninggalkan aku dalam kemandirian.Kau pulang kampung untuk tinggal dengan nenek,sedang aku tetap di Lumajang dalam asuhan orang yang sangat baiiiikkk,Bpk/Ibu Djoemadi.Semua karena kau akan segera memberiku seorang adik.Ah emak,ingatkah engkau betapa girangnya aku saat punya adik?Jika aku pulang ke kampung,hari-hari selalu kuhabiskan dengan adikku,engkau tersenyum saja melihat itu semua.
Beberapa tahun kemudian aku baru tahu,ternyata meninggalkanku sendirian di asuh orang lain menjadi salah satu penyesalan dalam hidupmu.Tapi tahukah engkau mak?aku tak pernah menyalahkan siapapun,apapun.Aku juga tak pernah menyesali semuanya mak.Bagiku engkau tetaplah emakku,apa dan bagaimananpun keadaannya.Toh engkau juga memberiku seorang adik yang setia menjagamu sampai saat terakhirmu ketika aku jauh darimu.
28 Juli 2011,kurang lebih pukul 21.30 wib,beberapa hari menjelang bulan Ramadhan,32 tahun setelah peristiwa kau lahirkan aku.Akhirnya engkau harus menyerah melawan penyakit yang mendera tubuhmu sekian lama.Engkau berpulang memenuhi panggilan pemilikmu yang sesungguhnya.Jarum jam rasanya berhenti berdetak bagiku mak.Aku tahu ini pasti akan terjadi,tapi aku tak pernah mengira harus secepat ini mak.
Maafkan aku mak yang tak sempat menemanimu di saat terakhirmu,maafkan aku yang tak sempat menjagamu di saat sakitmu seperti yang dulu selalu kau lakukan saat aku kecil,maafkan aku ya mak?
Pantas saja,beberapa hari sebelum dan menjelang engkau berpulang,cucumu Zafir,selalu menyebut namamu.Sering dia memakai mobil-mobilannya sebagai telepon,lalu pura-pura meneloponmu,begini mak bilangnya Zafir.."hao..mbah,zapin cubik ibu",tahukah maksudnya mak?Dia bermaksud mengadu kepadamu karena habis di cubit ibunya(meskipun tidak di cubit).
Ah,engkau tak pernah sempat menggendong Zafir untuk kesekian kalinya mak.Engkau belum sempat melihat betapa Zafir sekarang sudah tumbuh semakin lucu dan bawel.
Sejarah tak pernah mengenal jalan pulang.Begitulah adanya mak,kenangan kita semua tak akan pernah kembali lagi,tapi semuanya akan selalu menjadi bagian indah hidup kita.
Meskipun engkau telah pergi meninggalkan kami,tapi engkau tidak kemana-mana mak,engkau sesungguhnya selalu dekat disini mak...di hati kami anak-anakmu.Cinta dan kasih sayangmu selalu menjadi inspirasi bagi kami.Kegigihanmu membesarkan dan mengasuh kami seorang diri akan menjadi sebuah prasasti di jiwa kami,bagi kami engkau adalah "Super Woman" yang sesungguhnya.Cinta kami padamu akan selalu menyala sepanjang nafas kami.Kau tinggalkan aku dua permata yang tak kalah indahnya mak,adik dan mbak Ut,Insya Allah akan kujaga titipanmu mak,jangan kuatir mak.
Oh ya mak..apakah engkau sudah bertemu bapak?Apa kabarnya bapak mak?pasti bapak langsung menjemput dan memelukmu ya mak?Kerinduanmu bertahun-tahun telah terpenuhi mak,jadi bahagialah di sana ya mak?Usah kau pikirkan kami anak-anakmu di sini,kami bisa menjaga diri mak.Sudah cukup bertahun-tahun engkau menjaga kami,tugasmu pada kami sudah selesai mak.
Sekarang beristirahatlah dalam damai bersama bapak ya mak?Selamat jalan emak...
Dan,aiiih...meski nyawamu sempat terancam gara-gara aku,tapi engkau tak pernah marah,menyesal ataupun kecewa.Engkau malah tersenyum lebar melihat kehadiranku.Aneh.Malah kemudian engkau bercerita kepada para tetangga,bahwa engkau sudah melahirkan seorang bayi yang ganteng dan gagah.Padahal sampai aku dewasa nanti,aku tidak pernah mendengar ada orang lain,bahkan kawan-kawanku sendiri yang pernah mengatakan bahwa aku ini ganteng dan gagah,kecuali engkau dan istriku.Tapi engkaupun tak pernah peduli dengan itu semua,bagimu aku adalah sebuah permata yang tak ternilai.
Dan begitulah mak selanjutnya.Maka berlima kita hidup di sebuah rumah mungil pemberian nenek.Bapak,engkau,mas Din,mbak Ut,dan si jagoan neon,aku.Samar-samar aku masih ingat mak,aku harus sering engkau titipkan ke tetangga,karena engkau harus juga bekerja membantu keuangan bapak.Samar-samar aku juga teringat mak,aku kadang datang ke sekolahan tempat engkau berjualan minta jatah kue,aku juga sedikit teringat ketika aku menangis mencarimu,maka tetangga mengantarkan aku ke sawah untuk menjemputmu.Ah...ternyata engkau juga bekerja sebagai buruh tani di panas terik mentari demi kami anak-anakmu.Dan kisah kaos Unyil juga menjadi salah satu hal yang melegenda dalam ingatanku
Aku masih jelas teringat mak,kita memang dulu hidup dalam keterbatasan.Tapi cinta dan kasih sayang yang engkau berikan kepada kami,anak-anakmu,tak pernah mengenal batas.Kau berikan kasih sayang dalam takaran yang sama kepada kami,meski aku adalah anakmu yang paling bandel.Cinta dan kasihmu selalu ada kapan saja dan di mana saja.Selalu mengalir sampai ke jauh tanpa pernah mengenal ujung.
Begitulah hari-hari yang kita lalui.
Sampai di suatu sore.Saat itu bapak terbaring di rumah sakit,engkau sempatkan pulang untuk memandikan aku di sungai belakang rumah.Saat itu aku yang masih kecil,dengan polosnya berkata.."mak,ayo cepat kembali ke rumah sakit,nanti bapak keburu meninggal".Dan benar,tak lama kemudian bapak harus meninggalkan kita semua.Rasanya hanya sekejap kita rasakan kebahagiaan hidup bersama bapak
Aku tak begitu ingat dengan yang terjadi setelah itu,karena kejadian itu berlangsung saat aku masih lucu-lucunya,belum mengerti apa-apa.Yang kuingat aku dengan di gendong Mas Din di ajak keluar menjauh,sementara orang-orang di dalam rumah dengan jenazah bapak.
Menyerahkah engkau mak?tidak!engkau ternyata tak pernah menyerah dengan semua keadaan yang terjadi.Selanjutnya engkau ajak aku pergi ke Lumajang untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga,kau tinggalkan semua kenangan dengan bapak,kau tinggalkan nenek dan mbak Ut di kampung.Semua demi aku....
Di kota inilah kelak aku tumbuh dan besar sampai menjelang dewasa.Kenangan kita selama di Lumajang selalu terpatri di ingatanku mak.Aku ingat saat engkau menyetrika baju sambil engkau gendong aku di punggungmu.Kadang meski sakit kau belain tetap mencuci baju di malam hari,sambil duduk bengong di sampingmu,aku menemanimu.Lalu kau berkata.."ini semua demi kamu le..".Tak pernah kulihat wajah lelahmu,meski pekerjaanmu bejibun.Senyummu selalu kau berikan di balik penat tubuhmu.
Bila aku sakit kau selalu membuatkan telur rebus kesukaanku,saking senangnya sama telur rebus,kadang aku aku ingin sakit biar dibuatkan telur rebus.
Meski nakalku nggak ketulungan,tak pernah kau marahi aku.Yang ada hanyalah senyuman,sambil kau belai rambutku,kau bisikkan harapan-harapanmu padaku.Bila tidur,aku tak pernah bisa jauh darimu,sampai kadang kau harus tinggalkan dulu pekerjaanmu untuk menemaniku tidur,setelah aku terlelap kau kembali bekerja melanjutkan roda hidup kita.
Setiap lebaran menjelang,kau selalu belikan aku baju bagus untuk kupamerkan saat kita pulang ke kampung.Lalu dengan memakai baju baru yang masih bau toko,aku selalu kau ajak ke makam bapak.Sering aku melihat air matamu menetes di hadapan makam bapak.Mungkin engkau terlalu rindu dengan bapak ya mak?
Menjelang SMP,kau harus meninggalkan aku dalam kemandirian.Kau pulang kampung untuk tinggal dengan nenek,sedang aku tetap di Lumajang dalam asuhan orang yang sangat baiiiikkk,Bpk/Ibu Djoemadi.Semua karena kau akan segera memberiku seorang adik.Ah emak,ingatkah engkau betapa girangnya aku saat punya adik?Jika aku pulang ke kampung,hari-hari selalu kuhabiskan dengan adikku,engkau tersenyum saja melihat itu semua.
Beberapa tahun kemudian aku baru tahu,ternyata meninggalkanku sendirian di asuh orang lain menjadi salah satu penyesalan dalam hidupmu.Tapi tahukah engkau mak?aku tak pernah menyalahkan siapapun,apapun.Aku juga tak pernah menyesali semuanya mak.Bagiku engkau tetaplah emakku,apa dan bagaimananpun keadaannya.Toh engkau juga memberiku seorang adik yang setia menjagamu sampai saat terakhirmu ketika aku jauh darimu.
28 Juli 2011,kurang lebih pukul 21.30 wib,beberapa hari menjelang bulan Ramadhan,32 tahun setelah peristiwa kau lahirkan aku.Akhirnya engkau harus menyerah melawan penyakit yang mendera tubuhmu sekian lama.Engkau berpulang memenuhi panggilan pemilikmu yang sesungguhnya.Jarum jam rasanya berhenti berdetak bagiku mak.Aku tahu ini pasti akan terjadi,tapi aku tak pernah mengira harus secepat ini mak.
Maafkan aku mak yang tak sempat menemanimu di saat terakhirmu,maafkan aku yang tak sempat menjagamu di saat sakitmu seperti yang dulu selalu kau lakukan saat aku kecil,maafkan aku ya mak?
Pantas saja,beberapa hari sebelum dan menjelang engkau berpulang,cucumu Zafir,selalu menyebut namamu.Sering dia memakai mobil-mobilannya sebagai telepon,lalu pura-pura meneloponmu,begini mak bilangnya Zafir.."hao..mbah,zapin cubik ibu",tahukah maksudnya mak?Dia bermaksud mengadu kepadamu karena habis di cubit ibunya(meskipun tidak di cubit).
Ah,engkau tak pernah sempat menggendong Zafir untuk kesekian kalinya mak.Engkau belum sempat melihat betapa Zafir sekarang sudah tumbuh semakin lucu dan bawel.
Sejarah tak pernah mengenal jalan pulang.Begitulah adanya mak,kenangan kita semua tak akan pernah kembali lagi,tapi semuanya akan selalu menjadi bagian indah hidup kita.
Meskipun engkau telah pergi meninggalkan kami,tapi engkau tidak kemana-mana mak,engkau sesungguhnya selalu dekat disini mak...di hati kami anak-anakmu.Cinta dan kasih sayangmu selalu menjadi inspirasi bagi kami.Kegigihanmu membesarkan dan mengasuh kami seorang diri akan menjadi sebuah prasasti di jiwa kami,bagi kami engkau adalah "Super Woman" yang sesungguhnya.Cinta kami padamu akan selalu menyala sepanjang nafas kami.Kau tinggalkan aku dua permata yang tak kalah indahnya mak,adik dan mbak Ut,Insya Allah akan kujaga titipanmu mak,jangan kuatir mak.
Oh ya mak..apakah engkau sudah bertemu bapak?Apa kabarnya bapak mak?pasti bapak langsung menjemput dan memelukmu ya mak?Kerinduanmu bertahun-tahun telah terpenuhi mak,jadi bahagialah di sana ya mak?Usah kau pikirkan kami anak-anakmu di sini,kami bisa menjaga diri mak.Sudah cukup bertahun-tahun engkau menjaga kami,tugasmu pada kami sudah selesai mak.
Sekarang beristirahatlah dalam damai bersama bapak ya mak?Selamat jalan emak...
Ikut Berduka Cita ya Mas Hanif.... smga amal ibadah Allmarhum di trima di SisiNya n kluarga yang di tinggalkan di beri kesabaran n kekuatan iman. Amien...
BalasHapusturut berduka cita ya..semoga diampuni segala khilaf dan dosa beliau, dan semoga amal ibadah beliau diterima disisi Allah SWT,..entah siapapun kita memanggilnya..Mak..Mama..Bunda..Ibu..mereka adl mutiara jiwa,sosok tangguh tapi lembut..sosok penuh cinta disaat sakit sekalipun...
BalasHapusterimakasih yang sebesar-besarnya buat nuansaembunpagi dan juga mbak muda atas semua doanyaterimakasih.
BalasHapusbuat mbak muda yang mungkin lebih dulu pernah merasakan seperti apa yang ku rasakan sekarang,salut mbak buat survival sampeyan semoga bisa menjadi inspirasi bagiku.....sekali lagi terimakasih....