"...negara sekuler bisa menampung energi kesalehan dan energi kemaksiatan sekaligus"
(Ulil Abshar Abdala,Tempo,November 2001)
Usia paham sepilis (sekulerisme,pluralisme,liberalisme) jauh lebih tua dari usia Republik ini.Sejarah mencatat paham ini lebih banyak berbenturan dengan kaum muslimin.Salah satu"kemenangan" yang monumental dari kaum sepilis terhadap umat muslim adalah di hapuskannya 7 kata dalam Piagam Jakarta,menjadi Pancasila yang kita kenal sekarang ini.
Dengan pergerakannya yang sampai tingkat elit,maka dari itu tidak mengherankan bila paham ini bisa langgeng sampai sekarang,meski kadang gerakannya cenderung seperti perang gerilya yang muncul dan menghilang secara tiba-tiba.
20 tahun lalu ketika saya masih bersekolah di SD saya pernah di buat bingung oleh mata pelajaran PMP,yang salah satunya mengajarkan kapada kami bahwa semua agama itu sama dan baik di mata Tuhan.Titik.
Di sisi lain agama yang saya anut,islam,mengajarkan bahwa agama kamilah yang paling sempurna.Kadang saat itu saya berpikir kalau semua agama itu sama,berarti saya bisa dong pakai agama lain,toh intinya sama.Menginjak SMP guru agama Islam kami,Bpk Harsono memberi penjelasan yang bisa menjawab kebingungan saya,beliau mengatakan bahwa semua agama itu memang baik,tapi ada "komanya"bukan lantas "titik".Semua agama itu sama dan baik,(koma)tapi menurut agama masing-masing.(titik),begitu menurut beliau.
Beberapa tahun kemudian barulah saya sadar bahwa apa yang membuat saya bingung di waktu SD ternyata adalah paham yang di sebut pluralisme.Dari pengalaman saya tersebut bisa kita bayangkan betapa berbahayanya paham tersebut,karena dapat menggoncang akidah seorang bukan saja umat muslim namun juga bagi pemeluk agama lain,dan selalu menempatkan dirinya dalam keragu-raguan.
Keran era reformasi yang di buka lebar-lebar tahun 1998 seperti menjadi gerbang tol bagi paham ini untuk secara terang-terangan menunjukkan eksistensinya.Bergandengan erat dengan sekulerisme(memisahkan agama dgn kehidupan baik pribadi/bernegara) dan liberalisme(paham kebebasan),trio paham ini (yang kita singkat menjadi "SEPILIS"),melaju kencang seolah mengejar ketertinggalannya untuk berusaha kembali menjadi bagian dalam kehidupan Republik ini.
Paham ini kemudian bermetamorfosa dalam kata-kata yang terasa indah di dengar seperti HAM,persamaan/kesetaraan,kebebasan,keadilan,toleransi dll.
Paham ini pun mulai berani secara terang-terangan muncul ke permukaan melalui LSM-LSM yang kian menjamur seperti cendawan di musim hujan.Di motori oleh JIL (Jaringan Islam Liberal),paham ini mulai berusaha merasuk ke dalam sendi-sendi kehidupan di Indonesia melalui setiap sudut strategis termasuk media-media masa yang bersedia bekerja sama dengan mereka.
Mereka kembali mengkampanyekan sekaligus menawarkan ideologi baru (yang sebenarnya sudah usang) untuk kehidupan bernegara yang lebih baik (menurut mereka).Sebuah harian di Jawa Timur dan jaringannya yang ada hampir di seluruh Indonesia pernah menjadi mimbar bagi gerakan kaum sepilis untuk berkhotbah dengan cara menerbitkan pemikiran-pemikiran mereka melalui rubrik yang dimuat seminggu sekali dalam 1 halaman penuh.Mereka juga menyasar media yang paling murah dan familier bagi masyarakat,yaitu radio.Melalui stasiun radio 68H jakarta,radio ini berhasil meyakinkan ratusan stasiun radio lainnya di seluruh Indonesia untuk me-relay siaran mereka.Tidak ketinggalan,mereka juga memiliki website di dunia maya dengan alamat http://islamlib.com/id
Tidak hanya media massa yang menjadi sasaran,tapi juga lembaga pendidikan Islam seperti IAIN,partai politik,bahkan 2 organisasi Islam terbesar di Indonesia yaitu NU dan Muhammadiyah tidak luput dari susupan mereka.Dan sejauh ini meski minoritas kaum sepilis ini sudah menjangkau berbagai kalangan,dari kalangan akar rumput sampai tingkat elit,bahkan kalangan muslim sendiri.Setelah bisa menguasai berbagai kalangan,kini mereka tinggal menunggu (kadang menciptakan) moment-moment yang tepat untuk melancarkan serangan dengan jurus-jurus sepilisnya.
Kita bisa melihat gerakan mereka secara gamblang bila terjadi peristiwa kekacauan yang berbau SARA,khususnya bila melibatkan umat Islam di dalamnya.
Saat itulah mereka masuk,lalu menyampaikan pendapatnya dengan menjatuhkan umat muslim.Di saat bersamaan mereka menawarkan pahamnya sebagai solusi yang jauh lebih baik.Persis tukang obat yang tengah mengobati pasien yang sudah sekarat di hadapan massa sambil menjatuhkan rivalnya sesama tukang obat.
Sebagai contoh kerusuhan di Cikeusik dan Temanggung beberapa waktu lalu.Sesaat setelah kerusuhan berlangsung media langsung menulis/memberitakan umat islam menyerang jemaah Ahmadiyah.Titik.Ingat saat itu penyelididkan kepolisisan masih baru saja di mulai,jika hukum kita menganut asas praduga tak bersalah mengapa vonis sudah di jatuhkan di saat penyelidikan belum selesai?
Disinilah kelihaian kaum sepilis,mereka segera memanfaatkan momen untuk kembali unjuk gigi.Bisa kita lihat judul -judul yang ada di media masa.."Ahmadiyah di serang 3 orang tewas","Ahmadiyah di serang 242 kali","Tragedi Ahmadiyah" dll.
Semua tulisan yang ada seperti menggiring opini publik kepada stigma bahwa Islam hanya berbicara masalah neraka,pedang,teroris,kekerasan,darah,pemaksaan kehendak,tidak toleran dan penyampaiannya (sekali lagi) tanpa menunggu kasus itu selesai.
Masih belum cukup,para pengusung paham sepilis ini juga hadir di stasiun televisi sebagai nara sumber,di saksikan jutaan rakyat Indonesia menyampaikan hal yang sama juga,bahwa Islam adalah agama kekerasan.
Yang menjadikan ironis,bahkan sangat ironis adalah semua pendapat tersebut disampaikan oleh para cendekiawan,individu yang terhormat,memiliki pengaruh dan massa dan mereka beragama Islam!
Tidak melulu melalui moment berbau SARA,pengusung paham sepilis juga hadir lewat jalur budaya,seperti musik dan film.Dengan dalih kebebasan berekspresi mereka menyajikan karya yang secara terselubung sarat dengan pesan sepilis.Seperti film "Perempuan Berkalung Sorban" yang dengan masif menggambarkan Islam sebagai sebuah agama yang kotor,menjijikkan,tidak beradab,kumuh.Pada dialognya ada yang malah mengadosi sebuah cerita dari kitab agama lain.Dan (lagi-lagi) sutradara film ini adalah seorang muslim.
Salah satu atasan di tempat saya bekerja yang juga seorang muslim pernah berkata kepada saya.."..jika kita ingin berbicara tentang kerukunan umat beragama,maka kita harus sejenak melepas islam dari diri kita agar kita bisa berpikir jernih dan netral".Karena beliau adalah atasan saya,saya berusaha menjawab sesopan mungkin.." sampai saya menutup mata saya tidak akan melepaskan Islam dari diri saya pak sedetikpun".
Karena jika hanya untuk bicara masalah kerukunan umat beragama,14 abad yang lalu jauh sebelum para pemimpin kita merumuskan hal itu,Islam (dalam hal ini Rasulullah saw) sudah memberi contoh bagaimana kerukunan beragama di aplikasikan dengan baik dan tanpa gejolak yang berarti di Madinah.Dalam hati saya juga berkata.."kalo kita lepaskan sesaat islam dalam diri kita ketika bicara masalah kerukunan tsb,trus mati?berarti kita mati dalam di luar Islam?".
Saya pribadi tidak pernah tahu apa motif yang sebenarnya dari gerakan kaum sepilis ini.Saya juga tidak pernah tahu mengapa hanya Islam yang menjadi sasaran .Tapi ucapan saudara Uil Abshar Abdalla (sekarang menjabat juga sebagai ketua Departemen Pengembangan Strategi dan Kebijakan Partai Demokrat) di awal tulisan ini mungkin bisa menjadi setitik jawabannya.Mengakomodasi energi kesalehan dan maksiat dalam satu wadah.
Dengan memisahkan agama dengan urusan duniawi,maka kehidupan tidak akan terikat kepada hal-hal yang dilarang/diperintahkan agama.Hidup menjadi bebas sebebas-bebasnya,tanpa ada konsekuensi yang menyertai perbuatan yang di lakukan.Kita di ajarkan untuk memandang agama sesuai dengan cara dan sudut pandang kita masing-masing,bila cocok pakai,kalo tidak buang saja.Agama bukan lagi sesuatu yang sakral,melainkan sesuatu yang bisa di perdebatkan,di koreksi.Kitab suci Al Quran bukan lagi merupakan firman Allah swt,melainkan produk budaya nabi Muhammad saw.Penistaan agama bukan lagi suatu tindakan yang haram,itu adalah wujud kebebasan penafsiran,dan itu adalah hak asasi setiap manusia.Menjadikan wanita sebagai imam adalah hak asasi dan kesetaraan antara pria dan wanita.Goyang ngebor,goyang gergaji atau tarian erotis lainnya di sebut sebagai produk budaya,kebebasan berekspresi,jihad mencari nafkah dan (lagi-lagi) HAM.
Adapun melaksanakan ajaran dan agama Islam adalah sesuatu yang kolot,terbelakang,anti demokrasi,ketinggalan jaman.Dan semua pemikiran itu kadang di ungkapkan oleh individu Islam sendiri!
Tapi jika kita kembalikan,benar-benar kita gali dan buka lubuk hati kita yang paling dalam,mari kita tanyakan pada lubuk hati kita.."benarkah itu semua yang kita cari?"
Dengan bercokolnya penganut paham sepilis di segala lini kehidupan bangsa ini,dari partai politik,pemerintahan,lembaga pendidikan,media masa,organisasi masa,organisasi Islam sendiri.Dan gempuran yang tiada pernah henti dari pemujanya,patut kiranya saya mengkhawatirkan keberlangsungan kehidupan islam di negeri ini di masa depan.Terlebih virus sepilis ini juga menjangkiti pemimpin (yang) agama islam,menjadikannya sulit terdektesi.Dan ingat,keberlangsungan Islam ada di tangan anak cucu kita kelak.Bisakah kita membayangkan bila racun sepilis itu bersarang dalam jiwa anak cucu kita?.Bukan hanya kehidupan Islam yang buram seperti yang terjadi di Turki sejak tahun tahun 1924,melainkan juga berarti kegagalan kita sebagai orang tua yang di amanahi oleh Allah swt akan anak-anak kita.Naudzubillahimindalik.
Wallahua`alam bish shawab
Assalamu'alaikum....
BalasHapusmembaca kajian anda, memang benar, Islam di Indonesia sedang mendapatkan Agresi oleh paham SEPILIS yg notabene SESAT. Begitu juga para pemimpin umat (yang mengaku beragama)Islam sudah terinfeksi virus Sepilis yang berdalilkan HAM, Gender dll. Terus terang...saya sendiri muak membaca ocehan2 para penghuni "JIL".
wassalam...
mulailah dari keluarga terdekat untuk membentengi diri dari pemahaman orang orang yang meletakkan ajaran logika/filsafat yunani di atas Al qur'an dan Hadist.
BalasHapus