Kamis, 26 Mei 2011

APA KABAR WAHAI DIRIKU? (RENUNGAN 32 TAHUN)

Apa kabar wahai diriku?.Lama nian tak pernah kau tengok aku,hati nuranimu.Selama ini engkau terlalu sibuk dengan duniawimu.Berangkat kerja ketika hari masih gelap,pulang saat matahari sudah tenggelam,lalu beristirahat untuk esok.Sedang aku tergopoh-gopoh menyertaimu agar kau tak pernah terpeleset dalam jebakannya.
32 tahun aku mendampingimu,tapi kadang aku masih tak pernah mengerti dengan apa yang engkau lakukan di dunia.
280.704 jam aku tak pernah pergi darimu,tapi kau selalu berusaha menjauhi aku.Apa salahku?aku hanya berusaha mengatakan yang benar itu benar,dan yang salah itu salah.Tapi kau selalu mengatakan dan berbuat sebaliknya.Ah andai ibumu tahu kau akan begini mungkin ia akan menyesal telah melahirkanmu.

Ibumu?Seorang wanita perkasa yang telah mempertaruhkan nyawanya hanya untuk mengantarmu melihat dunia.Menemanimu dan mengajarimu berloncatan,berbicara dan bersikap di waktu kecilmu,sudahkah kau tengok ia di tengah sakitnya?paling tidak doakanlah ia di dalam sujud-sujudmu,seperti ia dulu selalu berdoa untukmu tanpa kau ketahui.
Bagaimana dengan almarhum bapakmu?seringkah kau kirim doa untuknya?.Aku tahu sejak kecil kau tak pernah merasakan kasih sayang yang utuh dari bapakmu?tapi apakah itu bisa menjadi alasan mu untuk melupakan bapakmu,sedangkan engkau kini juga sudah menjadi seorang bapak?Bukankah kau kini sudah menyadari bahwa tanpa bapakmu kau tak akan pernah berdiri di dunia ini dan kau tak akan menjadi seorang bapak!

Hei..!!bagaimana kabar orang tua angkatmu? yang sudah mendidikmu,mengenalkanmu kepada Allah dan RasulNya,dan mengantarkanmu ke gerbang dewasa?,meski sedikit tengoklah mereka lewat percakapan telepon.Meski engkau jauh dan sibuk ,sempatkanlah.

Kau tak akan tumbuh dewasa tanpa asuhan mereka.Kau tak akan menjadi manusia yang mengerti salah dan benar,baik dan buruk tanpa didikan mereka.Betapa mereka berdua sudah menyisihkan waktu,ilmu dan tenaganya kepada engkau yang sebenarnya bukan siapa-siapa bagi mereka.Mereka sudah memberikan hal-hal yang tak akan pernah bisa kau balas dengan apapun

Ingatkah engkau wahai diriku,ketika ibu asuh asuhmu mengajarimu satu demi satu huruf hijaiyah setiap selesai magrib di waktu kamu masih kecil?atau teriakan bapak asuhmu yang selalu membangunkanmu ketika subuh bergema?.Atau juga ketika ibu asuhmu selalu memarahimu jika tugasmu tidak pernah beres?

Apakah kau masih ingat dengan ibu asuhmu yang pernah sampai harus menangis tersedu-sedu demi mengajarimu tentang arti sebuah kejujuran 13 tahun lalu?.Ketahuilah wahai diriku,bahwa arti dari tangisan ibu asuhmu adalah sebagai bahasa kesungguhan beliau untuk memberimu satu hal yang sangat berharga bagi perjalanan hidupmu di dunia kelak dan akhirat nantinya

.Juga sebagai ekpresi keibuan dan kasih sayang dari seorang wanita yang tidak pernah ingin engkau tergelincir dalam kehidupan ini.Karena beliau sudah membaca bahwa ada bibit sifat ketidakjujuran didirimu.Dan beliau dengan segenap jiwanya berusaha memotong bibit itu agar tidak tumbuh dan menjalar di hatimu.
17 tahun kau dalam asuhannya,dan itu bukan waktu yang sebentar dan bukan hal yang mudah bagi mereka untuk membimbing dan membesarkanmu dengan segala kenakalanmu dalam rentang waktu yang tak sebentar itu

Tahukah engkau wahai diriku,semua mereka lakukan hanya untuk memberimu bekal yang kini bisa kau nikmati.Apa yang kini kau rasakan mungkin tak akan pernah ada tanpa ada mereka di masa kecilmu.Besyukurlah padaNya dan berbuat baiklah pada kedua orang tua asuhmu.
Semua kemarahan,nasehat,hardikan,mereka di hari lalu itu semua adalah bentuk kasih sayang mereka padamu dalam perjalanan untuk mengantarmu menjadi dewasa,dan kau telah mengecap hasilnya sekarang.Aku tahu mereka tak pernah berharap apapun darimu.tapi kaulah yang harus tahu diri.Karena sebanyak apapun pena yang kau miliki tak akan pernah mampu menuliskan semua yang telah mereka berikan padamu

Atau sudahkah engkau berkirim doa kepada almarhum ibu mertuamu?.Tak kau sadarkah,anak perempuan terakhirnya telah kau bawa,setelah bertahun-tahun ia membesarkannya dan mengasuhnya?kau jauhkan anak perempuannya dari bapaknya dan saudara-saudaranya untuk kemudian kau sematkan gelar istri.

Istri?Sudahkah kau ajak istrimu menuju arah keluarga yang dicontohkan oleh agamamu?.Jikapun belum,sekarangpun belum terlambat untuk memulai,tidak ada kata terlambat untuk berbuat baik wahai diriku.Ingatlah ketika tangisnya,saudara dan kedua mertuamu ketika harus berpisah dengan anak kesayangannya demi mengikutimu menjalani kehidupan baru.Menyeberang luas lautan,ditambah perjalanan darat selama kurang lebih 7 jam menjadi bukti akan baktinya padamu
Kenanglah saat ia harus bersusah payah mengikutimu melalui jalan yang terjal dengan Zafir masih dalam kandungannya.Pandanglah wajahnya di tiap lelap tidurnya,gurat kelelahan akan selalu terpancar di rautnya demi pengabdiannya padamu sambil mengasuh Zafir.
Ingatkah engkau ketika ia mengajarimu tentang arti setia di saat nalurimu sebagai lelaki cenderung untuk mendua?.Sadarlah wahai diriku,telah banyak yang dilakukan istrimu.Dia memang bukan Khadijah yang begitu sempurna mendampingi Rasulmu.Engkaupun bukanlah Rasulullah saw yang begitu sempurna menjadi seorang suami,maka dari itu maklumilah kesalahannya.


Oh ya bagaimana si kecilmu Zafir?ah...bocah itu sangat beruntung memiliki ibu seperti istrimu,yang tidak pernah lelah menjaganya,yang begitu telaten mengasuhnya.Sudahkah kau didik ia seperti Lukman mendidik anaknya?.Aku kadang tersenyum melihat Zafir berteriak mengingatkanmu untuk sholat dengan bahasanya yang masih cadel,lalu ia mengikuti gerakanmu dan duduk di punggungmu ketika engkau sujud.
Akan kau beri bekal apa dia dalam kehidupannya?Mainan mahal atau pelajaran iman yang mewah?
Sudahkah kau tahu,ketika Rasulmu mengingatkan bahwa jaman yang akan dilalui anakmu kelak akan berbeda dengan jaman yang pernah kau lalui,sudah siapkah engkau?
Apakah engkau akan memberinya kemudahan sekarang untuk mempersulit ia kelak?atau kau akan mengajarkan kesulitan sekarang agar kelak ia mendapat kemudahan ketika menemui kesulitan.
Apa adanya ia kelak tergantung engkau dan istrimu memahatnya sekarang

Sujud?kemana lagi hilangnya tahajudmu yang dahulu selalu engkau lakukan?tak pernah lagi ku temui engkau bangun di tengah malam,kecuali hanya untuk menonton AC Milanmu berlaga.Padahal AC Milan tak pernah tahu dengan "pengorbananmu" itu.Bertahun-tahun orangtua asuhmu mengajarimu hal yang kini seolah kau lupakan.


Apa kabar wahai diriku?.Saat ini usiamu telah menunjukkan angka 32 tahun,telanjangilah dirimu untuk menjadi manusia yang lebih baikdi hari esok.Kau sudah bukan bocah yang 25 tahun lalu selalu menangis jika keinginanmu tak terpenuhi,yang harus ditakut-takuti oleh ibu asuhmu dengan jarum suntik bapak asuhmu hanya untuk mendiamkanmu dari tangismu.Engkau bukan lagi remaja 17 tahun yang selalu bimbang dalam bersikap,bukan pula seorang lelaki  yang hanya tahu menghabiskan waktu tanpa berpikir hari esok seperti 5 atau 10 tahun lalu.Engkau sudah menjadi seorang manusia,suami dan bapak yang memiliki tanggung jawab terhadap diri dan keluargamu,bebanmu semakin berat wahai diriku.

Tapi ingatkah engkau dengan tutur lembut pesan ibu asuhmu sebelum engkau berangkat merantau,mencoba mencari jati dirimu 12 tahun yang lampau? Beliau menitip pesan untukmu agar engkau selalu mengingat Allah swt,karena dimanapun engkau berada,semua masihlah bumi Allah.Tak usah takut ataupun khawatir karena Allah selalu menyertaimu,ingatkah engkau wahai diriku?

Betapa banyak daftar tugasmu sebagai manusia,anak,suami dan bapak.Tapi usah kau pikirkan itu,lakukan saja apa yang memang seharusnya kau lakukan.Terlalu banyak berpikir tidak akan menyelesaikan semua tugasmu.Karena sesuatu yang tak pernah selesai adalah sesuatu yang tak kunjung di mulai.Kau tak akan mampu menyeberangi samudra hanya dengan memandang pantainya.

Sekarang berdirilah wahai diriku sebagai seorang lelaki.Syukurilah,betapa Allah swt telah memberimu begitu banyak hal yang mungkin tak pernah kau sadari sepanjang hidupmu.Dia juga memberimu kebahagiaan yang tak pernah kau minta,yang tak akan pernah mampu kau hitung dengan angka-angka,yang mungkin lalu begitu saja dalam hidupmu.Dia memberimu cobaan hanya untuk menguji janji yang telah kau ucapkan setiap hari dalam sholatmu.


Wahai diriku,angka 32 hanya menjadi simbol dimata manusia.Angka itu tak pernah bisa menjadi kebanggaan ataupu sesuatu  jika banyak waktu yang telah kau sia-siakan.Adapun hari,bulan tahun tidak akan memberimu makna jika kau sendiri tak pernah memberikan makna itu sendiri.

Apa kabar wahai diriku? semoga esok menjadi hari yang lebih baik dari hari ini........



"Ku persembahkan tulisan ini untuk emakku,istri dan anakku tercinta,dan semua orang yang kusayangi.Terkhusus untuk Bapak dan Ibu Djoemadi Doeljadi tercinta,terimakasih dari hati yang terdalam untuk semuanya .Salam kangen dan cinta dari kami di Bontang untuk Bapak dan Ibu di Lumajang.Juga buat mas Aik,mas Mio,mas Dio terimakasih untuk masa kecil yang indah..miss u all"





Tidak ada komentar:

Posting Komentar