Satu lagi pemain yang menjadi salah satu alasanku untuk rela begadang tengah malam demi menonton aksinya harus pergi.Ya The Metronome,Andrea Pirlo,salah satu maestro sepakbola modern harus meninggalkan AC Milan.
Haru,bangga,sedih,kecewa bercampur aduk saat membaca berita bahwa Pirlo memilih untuk pergi setelah 10 tahun bersama Milan.
Aku mulai menggemari permainannya semenjak masih berada di Brescia dan Reggina di akhir 90 an.Tendangan bebas yahud,keeping ball yang mantap,umpan akurat dan kemampuan mencari celah di pertahanan lawan membuatku seperti mempertanyakan Inter Milan yang tak kunjung memakainya secara optimal.
Kedatangannya di AC Milan di tahun 2001 membuat aku girang bukan kepalang.Meski sulit untuk menggeser posisi Rui Costa atau Kaka tapi Carlo Ancelotti memberikannya posisi yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.Sebagai deep lying playmaker,Pirlo bertugas selain memotong serangan lawan sekaligus mengalirkan bola ke lini depan.Di sinilah seperti menjadi renaisance bagi Pirlo setelah tersisa-sia di Inter Milan
Permainannya memang seperti tak terlihat di lapangan,karena Pirlo bukan pemain dengan liukan dan kecepatan maut seperti Kaka,atau setrengginas Gattuso.Karakternya yang cenderung kalem,membuat anggapan itu muncul.
Tapi saat mendapat bola dan menunggu dia akan kemana mengalirkan bola itu,akan menjadi saat yang penuh antusias bagiku,karena arahnya yang tidak pernah bisa di tebak dan penuh kejutan.
Ingat salah satunya ketika umpannya kepada Fabio Grosso saat Italia versus Jerman di World Cup 2006?.Saat itu jika pemain lain,pasti akan segera menembak ke arah gawang mengingat posisinya yang cukup ideal.Tapi dengan cerdik dan kejelian luar biasa Pirlo malah membelokkan bola dan mengumpan ke Grosso yang berdiri bebas, tanpa di duga siapapun,dan ..gol! Menurutku itulah the best assist dari Pirlo sampai saat ini.
Atau saat secara tiba -tiba dia melepaskan tendangan kerasnya dari jarak jauh dan menjadi gol,di saat semua pemain lawan maupun kawan mengira bola akan diumpankan karena jaraknya yang masih cukup jauh dari gawang lawan?(Real Madrid vs AC Milan,penyisihan Liga Champion 2009/2010).
Itu hanya sekelumit skill yang dipersembahkan Pirlo yang kemudian semakin mempertegas julukan the metronome.
Begitu krusialnya peran Pirlo bagi Milan,seorang Demetrio Albertini (mantan pemain Milan)di tahun 2010,sampai pernah mengatakan "..jika Milan melepas Pirlo,maka Milan harus melakukan operasi plastik.".Maksudnya tanpa Pirlo,Milan harus merubah gaya permainan yang menjadi ciri Milan.Wow..!
Berlebihan?aku kira tidak.Jika saja Albertini yang notabene adalah pemain yang posisinya digantikan Pirlo,berpendapat seperti itu,berarti cukup menggambarkan pentingnya peran Pirlo bagi Milan.
Atau ketika media Italia pernah menulis "No Pirlo,No Milan".Terbayangkan arti seorang Pirlo bagi Milan?
Adapun bagiku,Pirlo ibarat David Foster-nya AC Milan,yang mampu menciptakan musik dengan irama cepat atau lambat dengan sama indahnya.Dia tahu kapan harus bermain cepat,lambat atau malah melepaskan cannon ballnya dari jarak jauh..Dia seperti illusionis lapangan hijau dengan arah umpan dan pergerakan yang tak bisa di duga arahnya.Dia seperti buah cherry di atas sebuah kue tart yang bernama AC Milan.
Mungkin satu hal yang kurang dalam diri Pirlo adalah dia tidak pernah terpilih sebagai pemain terbaik baik level eropa maupun dunia.Ingat di World Cup 2006 jumlah sebagai man of the match Pirlo lebih banyak dari pada Fabio Cannavaro yang akhirnya terpilih sebagai pemain terbaik turnamen.Padahal mengingat aksinya selama gelaran berlangsung,aku rasa Pirlo lebih pantas dari pada Cannavaro,apalagi Zidane.
Pirlo yang memecah kebuntuan ketika Italia berhadapan dengan Ghana.Umpan ajaibnya yang mengawali kemenangan atas Jerman di semifinal.Di final assistnya dari sepak pojok berhasil di sundul Materazzi untuk menyamakan kedudukan.Dia pun tidak tercoreng dengan tindakan yang seperti Zidane lakukan.Tidak terpilihnya Pirlo saat itu bagiku adalah sebuah"skandal"
Tapi lepas dari itu semua,itulah hidup.Datang dan pergi,pertemuan perpisahan,adalah sebuah siklus yang harus terjadi di alam ini.Sebelum kedatangan Pirlo,Milan pernah melakukan hal yang sama terhadap Albertini ketika di lepas ke Atletico Madrid.Tak lama kemudian Pirlo datang mengisi missink link dalam tubuh Milan,yang malah menjadi awal generasi baru bagi Milan.Dan kini giliran Pirlo yang harus meninggalkan Milan.
Menyaksikan Pirlo tanpa seragam Rossoneri setelah 10 tahun akan menjadi hal yang aneh bagiku.Apapun penyebab kepergiannya sebagai milanisti aku tetap bangga pernah menyaksikannya berseragam merah hitam..
Scudetto dan gol luar biasa dari jarak jauh melawan Parma adalah persembahan terakhir Pirlo buat Milan
Berikut adalah video perpisahan Pirlo dengan rekan-rekannya dalam sesi latihan terakhir Milan sebelum menghadapi Udinese
Grazie Andrea Pirlo..
Haru,bangga,sedih,kecewa bercampur aduk saat membaca berita bahwa Pirlo memilih untuk pergi setelah 10 tahun bersama Milan.
Aku mulai menggemari permainannya semenjak masih berada di Brescia dan Reggina di akhir 90 an.Tendangan bebas yahud,keeping ball yang mantap,umpan akurat dan kemampuan mencari celah di pertahanan lawan membuatku seperti mempertanyakan Inter Milan yang tak kunjung memakainya secara optimal.
Kedatangannya di AC Milan di tahun 2001 membuat aku girang bukan kepalang.Meski sulit untuk menggeser posisi Rui Costa atau Kaka tapi Carlo Ancelotti memberikannya posisi yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.Sebagai deep lying playmaker,Pirlo bertugas selain memotong serangan lawan sekaligus mengalirkan bola ke lini depan.Di sinilah seperti menjadi renaisance bagi Pirlo setelah tersisa-sia di Inter Milan
Permainannya memang seperti tak terlihat di lapangan,karena Pirlo bukan pemain dengan liukan dan kecepatan maut seperti Kaka,atau setrengginas Gattuso.Karakternya yang cenderung kalem,membuat anggapan itu muncul.
Tapi saat mendapat bola dan menunggu dia akan kemana mengalirkan bola itu,akan menjadi saat yang penuh antusias bagiku,karena arahnya yang tidak pernah bisa di tebak dan penuh kejutan.
Ingat salah satunya ketika umpannya kepada Fabio Grosso saat Italia versus Jerman di World Cup 2006?.Saat itu jika pemain lain,pasti akan segera menembak ke arah gawang mengingat posisinya yang cukup ideal.Tapi dengan cerdik dan kejelian luar biasa Pirlo malah membelokkan bola dan mengumpan ke Grosso yang berdiri bebas, tanpa di duga siapapun,dan ..gol! Menurutku itulah the best assist dari Pirlo sampai saat ini.
Atau saat secara tiba -tiba dia melepaskan tendangan kerasnya dari jarak jauh dan menjadi gol,di saat semua pemain lawan maupun kawan mengira bola akan diumpankan karena jaraknya yang masih cukup jauh dari gawang lawan?(Real Madrid vs AC Milan,penyisihan Liga Champion 2009/2010).
Itu hanya sekelumit skill yang dipersembahkan Pirlo yang kemudian semakin mempertegas julukan the metronome.
Begitu krusialnya peran Pirlo bagi Milan,seorang Demetrio Albertini (mantan pemain Milan)di tahun 2010,sampai pernah mengatakan "..jika Milan melepas Pirlo,maka Milan harus melakukan operasi plastik.".Maksudnya tanpa Pirlo,Milan harus merubah gaya permainan yang menjadi ciri Milan.Wow..!
Berlebihan?aku kira tidak.Jika saja Albertini yang notabene adalah pemain yang posisinya digantikan Pirlo,berpendapat seperti itu,berarti cukup menggambarkan pentingnya peran Pirlo bagi Milan.
Atau ketika media Italia pernah menulis "No Pirlo,No Milan".Terbayangkan arti seorang Pirlo bagi Milan?
Adapun bagiku,Pirlo ibarat David Foster-nya AC Milan,yang mampu menciptakan musik dengan irama cepat atau lambat dengan sama indahnya.Dia tahu kapan harus bermain cepat,lambat atau malah melepaskan cannon ballnya dari jarak jauh..Dia seperti illusionis lapangan hijau dengan arah umpan dan pergerakan yang tak bisa di duga arahnya.Dia seperti buah cherry di atas sebuah kue tart yang bernama AC Milan.
Mungkin satu hal yang kurang dalam diri Pirlo adalah dia tidak pernah terpilih sebagai pemain terbaik baik level eropa maupun dunia.Ingat di World Cup 2006 jumlah sebagai man of the match Pirlo lebih banyak dari pada Fabio Cannavaro yang akhirnya terpilih sebagai pemain terbaik turnamen.Padahal mengingat aksinya selama gelaran berlangsung,aku rasa Pirlo lebih pantas dari pada Cannavaro,apalagi Zidane.
Pirlo yang memecah kebuntuan ketika Italia berhadapan dengan Ghana.Umpan ajaibnya yang mengawali kemenangan atas Jerman di semifinal.Di final assistnya dari sepak pojok berhasil di sundul Materazzi untuk menyamakan kedudukan.Dia pun tidak tercoreng dengan tindakan yang seperti Zidane lakukan.Tidak terpilihnya Pirlo saat itu bagiku adalah sebuah"skandal"
Tapi lepas dari itu semua,itulah hidup.Datang dan pergi,pertemuan perpisahan,adalah sebuah siklus yang harus terjadi di alam ini.Sebelum kedatangan Pirlo,Milan pernah melakukan hal yang sama terhadap Albertini ketika di lepas ke Atletico Madrid.Tak lama kemudian Pirlo datang mengisi missink link dalam tubuh Milan,yang malah menjadi awal generasi baru bagi Milan.Dan kini giliran Pirlo yang harus meninggalkan Milan.
Menyaksikan Pirlo tanpa seragam Rossoneri setelah 10 tahun akan menjadi hal yang aneh bagiku.Apapun penyebab kepergiannya sebagai milanisti aku tetap bangga pernah menyaksikannya berseragam merah hitam..
Scudetto dan gol luar biasa dari jarak jauh melawan Parma adalah persembahan terakhir Pirlo buat Milan
Berikut adalah video perpisahan Pirlo dengan rekan-rekannya dalam sesi latihan terakhir Milan sebelum menghadapi Udinese
Grazie Andrea Pirlo..




Tidak ada komentar:
Posting Komentar