Kemarin salah satu atasanku bertanya kepadaku.."nif.dimana sih sebenarnya letak kebahagiaan itu?","memang kenapa bos?",aku balik bertanya.Mungkin dalam hati atasanku ngedumel.."ini orang ditanya malah balik nanya".Beliau hanya menjawab.."ga pa-pa.".
Bagi kita itu adalah sebuah pertanyaan klasik,yang sudah ada sejak kita belum dilahirkan.Ratusan bahkan mungkin ribuan psikolog,filsuf,pakar motivator sudah dibuat sibuk oleh pertanyaan satu ini.Mereka pun sibuk merumuskan jawaban sesuai dengan keahlian masing-masing.
Pertannyaan itu pula yang mengingatkanku pada cerita si kecilku,Zafir beberapa hari lalu.Dimana batin dan pemikiran seorang bocah adalah simbol kejujuran yang murni,apa adanya,tanpa pemanis kata,tanpa topeng,tanpa tedeng aling-aling.Semuanya masih bersih,belum terkontaminasi hiruk pikuknya dunia dan permasalahannya.Setuju?harus setuju!
Selama Zafir lahir sampai sekarang berusia 20 bulan,aku memang jarang sekali mengajaknya pelesir ke tempat-tempat wisata,ke mal mal yang ada taman bermain bagi anak-anak,apalagi ke tempat bermain yang mewah.Mainannyapun hanya mainan buatan china yang murah meriah,gampang rusak.Itupun aku hanya sesekali membelikannya.Bukan karena pelit,ataupun males,tapi karena aku sendiri harus berusaha keras untuk bisa memenuhi kebutuhan keluarga kecilku,hingga kadang meski hari libur (alhamdulillahirobbilalamin),aku harus masuk kerja untuk cari penghasilan tambahan.
Seingatku aku hanya sekali membawanya ke sebuah mal mewah di kota Samarinda,itupun karena zafir sempat harus berobat ke sana,jadi sekalian mampir. Zafir nampak kegirangan saat kuajak ke tempat bermain anak-anak .Dia nampak puas menikmati semua fasilitas permainan yang ada di situ.Tapi setelah itu tidak pernah lagi.
Setelah itu hanya odong-odong keliling mainan termewah yang bisa dia rasakan,berbekal 3000 rupiah,sudah cukup untuk membuat dia bahagia.Itupun tidak bisa setiap hari,sekali lagi karena waktu dan jatah uang belanja yang terbatas.Alhamdulillah,Zafir pun tidak pernah protes,paling kalo lama tidak bertemu dengan mainan favoritnya dia hanya ngoceh.."naik odo bapak..",(tanpa "ng") kalaupun aku tidak bisa memenuhi keinginannya dia akan kembali ke mobil-mobilan dari chinanya.
Disisi lain anak temanku,sebut saja namanya A (cewek),selalu mendapat fasilitas permainan mewah.Pergi ke mal adalah hal biasa baginya,mendapat mainan mahal sudah lumrah,bahkan sampai bertumpuk.Kadang kalo kita bertemu,pernah temanku menyindirku dengan ngomong pada Zafir.."main ke rumahnya adik A mas zafir,di sana lebih banyak mainannya,disana mainannya ga ada yang manual semua bagus-bagus mas zafir.."dasar bocah,zafir hanya cuek menanggapinya.Aku sendiri hanya tersenyum mendengar sindiran tadi.
Suatu ketika ibu si A bercerita,bahwa A pernah berhari-hari ngambek berhari-harisampai sakit panas.Semua karena A pernah minta dibelikan mainan mahal,dan orang tuanya belum bisa memenuhi keinginannya karena stok yang ada masih rusak,masih belum datang stok baru.Setelah datang stok baru,ibunya langsung membelikannya.Lalu seperti sulap,si A langsung sembuh dari panasnya dan tidak ngambek lagi.
Disaat yang hampir bersamaan zafir jadi sering bilang sama ibunya.."naik odo ibu.."(masih tanpa "ng").Tapi karena kesibukanku aku masih belum sempat mengantarnya.Alhamdulillah Zafir seperti memaklumi kalau bapaknya ini orang yang sibuk,dia tidak pernah bersikap rewel karena keinginannya belum terpenuhi.
Ketika ada waktu aku langsung mengantarnya ke mainan favoritnya itu.Begitu melihat odong-odong matanya langsung berbinar,lalu berteriak histeris "odoooo..".(sekali lagi masih tanpa "ng").Seperti Indiana Jones bertemu harta karun,begitu lah ekspresinya.
Dari cerita diatas aku jadi teringat pertanyaan bosku tadi.Dimana letak kebahagiaan itu?.Sorry bos,aku baru bisa menjawab sekarang pertanyaan anda,semoga memuaskan.
Insya Allah kebahagian itu terletak di hati kita (ya iyalah masak di dengkul?).
Bukan begitu kawan.,tapi jika kita mau merenungkan,sebenarnya hal yang membuat kita seolah di jauhi kebahagiaan adalah pemikiran dan hati kita.Kok bisa?Lantas apa hubungannya dengan cerita 2 bocah tadi? Tidak ada! he he he.
Mari kita cermati.Bocah A,ketika dia tidak bisa segera mendapatkan mainannya (di sini kita representasikan mainan sebagai kebahagiaan bagi si bocah) dia berontak pada keadaan.Ngambek pada orang tuanya,bahkan sampai sakit panas.Di sisi lain Zafir,ketika aku tidak bisa dengan segera mengantarkan dia naik odong-odong,dia tidak pernah protes (alhamdulillah).Dia segera beralih pada mainannya yang ada,dan dia tetap enjoy.
Disinilah kita melihat dua sikap dan pemikiran yang berbeda dalam menyikapi keadaan yang ada.Si A memilih untuk berperang demi mendapatkan kebahagiaan,tanpa mau tahu dengan keadaan yang sedang terjadi,bahkan sampai harus merugikan dirinya sendiri (sakit panas).Sedangkan Zafir memilih untuk bersikap mengkompromikan antara keadaan dan keinginannya,dengan tetap merasa bahagia dengan mainan yang ada.
Itulah yang terkadang terjadi pada diri kita.Berarti kebahagiaan itu berarti sikap kompromi?ya,salah satunya.Berdamai dengan hati adalah salah satu letak kebahagiaan.Tidak kita pungkiri,seringkali kita temui keadaan yang tidak sesuai dengan harapan kita.Adalah manusiawi jika kita marah,jengkel,bahkan sedih.Untuk melarutkan keadaan tersebut dalam hati kita adalah dengan bersikap kompromi terhadap diri kita,yaitu dengan tetap memandang positif.
Bagaimana bisa hal yang buruk harus dikompromikan untuk menjadi baik,bukankah itu sebuah skandal? hey..kita tidak sedang bicara politik praktis kawan.Yang kita bicarakan adalah manusia,makhluk dengan sejuta emosi dan pemikiran.Manusia bisa menjadi makhluk paling mulia dengan menggunakan emosi dan pemikiran pada tataran yang benar,tapi sekejap itu pula manusia bisa menjadi makhluk yang lebih rendah dari binatang jika emosi dan pemikiran dibiarkan berkembang liar.
Kembali ke pokok tulisan,seringkali kita menetapkan standar kebahagiaan dalam pemikiran kita.Tanpa kita sadari terkadang standar itu membatasi kita untuk dapat melihat kebahagiaan yang sudah ada,yang bahkan terkadang tidak dimiliki dan diinginkan oleh orang lain.Kita jadi terbelenggu oleh standar yang kita buat sendiri.
Bocah A memiliki standar kebahagiaan yang berbeda dengan Zafir.Ketika standar tersebut belum mampu terlampaui maka yang ada adalah pemberontakan terhadap diri sendiri dan sekitarnya.Sedangkan Zafir ketika standar kebahagiaannya belum mampu terjangkau dia memilih untuk menatap ke kebahagiaan yang sudah ada.Meski begitu Zafir tidak pernah menyerah untuk menagih kebahagiannya.."bapak.naik odo.." lagi-lagi tanpa "ng".
Dari sini kita bisa melihat bahwa letak kebahagiaan itu adalah relatif.Dia akan selalu ada jika kita mampu menyikapi keadaan dengan arif.Tapi dia juga tidak akan pernah kita temui jika kita selalu salah menilai keadaan.Tapi pada intinya kebahagiaan itu ada dalam hati dan pemikiran kita yang akan melahirkan sikap yang tepat.
Memang alam pemikiran kita sangat jauh berbeda dengan kedua bocah tadi,tapi betapa seringkali Allah swt memberi kita pelajaran lewat sesuatu yang mungkin bagi kita adalah hal remeh.Tergantung kita mau atau tidak memahami pelajaran yang diberikan olehNya
Kalaupun aku mengambil contoh dari anakku sendiri dengan perbandingan anak orang lain,bukan aku bermaksud ujub,pamer dan menganggap anakku lebih baik dari anak orang lain,sama sekali tidak.Masih kuperlukan ribuan jam untuk dapat memahat aqidah dan akhlak Zafir menjadi manusia yang sesuai dengan apa yang diajarkan agama.
Wallahuallam.
"Tidak ada hal yang buruk yang datang dari Allah swt.Hanya ketidakmampuan manusia memahami misteri otoritas kehendakNya yang melahirkan kesalahpahaman".
(Muhammad Ibnu Jabir Ibnu Sinan al Battani)
Bagi kita itu adalah sebuah pertanyaan klasik,yang sudah ada sejak kita belum dilahirkan.Ratusan bahkan mungkin ribuan psikolog,filsuf,pakar motivator sudah dibuat sibuk oleh pertanyaan satu ini.Mereka pun sibuk merumuskan jawaban sesuai dengan keahlian masing-masing.
Pertannyaan itu pula yang mengingatkanku pada cerita si kecilku,Zafir beberapa hari lalu.Dimana batin dan pemikiran seorang bocah adalah simbol kejujuran yang murni,apa adanya,tanpa pemanis kata,tanpa topeng,tanpa tedeng aling-aling.Semuanya masih bersih,belum terkontaminasi hiruk pikuknya dunia dan permasalahannya.Setuju?harus setuju!
Selama Zafir lahir sampai sekarang berusia 20 bulan,aku memang jarang sekali mengajaknya pelesir ke tempat-tempat wisata,ke mal mal yang ada taman bermain bagi anak-anak,apalagi ke tempat bermain yang mewah.Mainannyapun hanya mainan buatan china yang murah meriah,gampang rusak.Itupun aku hanya sesekali membelikannya.Bukan karena pelit,ataupun males,tapi karena aku sendiri harus berusaha keras untuk bisa memenuhi kebutuhan keluarga kecilku,hingga kadang meski hari libur (alhamdulillahirobbilalamin),aku harus masuk kerja untuk cari penghasilan tambahan.
Seingatku aku hanya sekali membawanya ke sebuah mal mewah di kota Samarinda,itupun karena zafir sempat harus berobat ke sana,jadi sekalian mampir. Zafir nampak kegirangan saat kuajak ke tempat bermain anak-anak .Dia nampak puas menikmati semua fasilitas permainan yang ada di situ.Tapi setelah itu tidak pernah lagi.
Setelah itu hanya odong-odong keliling mainan termewah yang bisa dia rasakan,berbekal 3000 rupiah,sudah cukup untuk membuat dia bahagia.Itupun tidak bisa setiap hari,sekali lagi karena waktu dan jatah uang belanja yang terbatas.Alhamdulillah,Zafir pun tidak pernah protes,paling kalo lama tidak bertemu dengan mainan favoritnya dia hanya ngoceh.."naik odo bapak..",(tanpa "ng") kalaupun aku tidak bisa memenuhi keinginannya dia akan kembali ke mobil-mobilan dari chinanya.
Disisi lain anak temanku,sebut saja namanya A (cewek),selalu mendapat fasilitas permainan mewah.Pergi ke mal adalah hal biasa baginya,mendapat mainan mahal sudah lumrah,bahkan sampai bertumpuk.Kadang kalo kita bertemu,pernah temanku menyindirku dengan ngomong pada Zafir.."main ke rumahnya adik A mas zafir,di sana lebih banyak mainannya,disana mainannya ga ada yang manual semua bagus-bagus mas zafir.."dasar bocah,zafir hanya cuek menanggapinya.Aku sendiri hanya tersenyum mendengar sindiran tadi.
Suatu ketika ibu si A bercerita,bahwa A pernah berhari-hari ngambek berhari-harisampai sakit panas.Semua karena A pernah minta dibelikan mainan mahal,dan orang tuanya belum bisa memenuhi keinginannya karena stok yang ada masih rusak,masih belum datang stok baru.Setelah datang stok baru,ibunya langsung membelikannya.Lalu seperti sulap,si A langsung sembuh dari panasnya dan tidak ngambek lagi.
Disaat yang hampir bersamaan zafir jadi sering bilang sama ibunya.."naik odo ibu.."(masih tanpa "ng").Tapi karena kesibukanku aku masih belum sempat mengantarnya.Alhamdulillah Zafir seperti memaklumi kalau bapaknya ini orang yang sibuk,dia tidak pernah bersikap rewel karena keinginannya belum terpenuhi.
Ketika ada waktu aku langsung mengantarnya ke mainan favoritnya itu.Begitu melihat odong-odong matanya langsung berbinar,lalu berteriak histeris "odoooo..".(sekali lagi masih tanpa "ng").Seperti Indiana Jones bertemu harta karun,begitu lah ekspresinya.
Dari cerita diatas aku jadi teringat pertanyaan bosku tadi.Dimana letak kebahagiaan itu?.Sorry bos,aku baru bisa menjawab sekarang pertanyaan anda,semoga memuaskan.
Insya Allah kebahagian itu terletak di hati kita (ya iyalah masak di dengkul?).
Bukan begitu kawan.,tapi jika kita mau merenungkan,sebenarnya hal yang membuat kita seolah di jauhi kebahagiaan adalah pemikiran dan hati kita.Kok bisa?Lantas apa hubungannya dengan cerita 2 bocah tadi? Tidak ada! he he he.
Mari kita cermati.Bocah A,ketika dia tidak bisa segera mendapatkan mainannya (di sini kita representasikan mainan sebagai kebahagiaan bagi si bocah) dia berontak pada keadaan.Ngambek pada orang tuanya,bahkan sampai sakit panas.Di sisi lain Zafir,ketika aku tidak bisa dengan segera mengantarkan dia naik odong-odong,dia tidak pernah protes (alhamdulillah).Dia segera beralih pada mainannya yang ada,dan dia tetap enjoy.
Disinilah kita melihat dua sikap dan pemikiran yang berbeda dalam menyikapi keadaan yang ada.Si A memilih untuk berperang demi mendapatkan kebahagiaan,tanpa mau tahu dengan keadaan yang sedang terjadi,bahkan sampai harus merugikan dirinya sendiri (sakit panas).Sedangkan Zafir memilih untuk bersikap mengkompromikan antara keadaan dan keinginannya,dengan tetap merasa bahagia dengan mainan yang ada.
Itulah yang terkadang terjadi pada diri kita.Berarti kebahagiaan itu berarti sikap kompromi?ya,salah satunya.Berdamai dengan hati adalah salah satu letak kebahagiaan.Tidak kita pungkiri,seringkali kita temui keadaan yang tidak sesuai dengan harapan kita.Adalah manusiawi jika kita marah,jengkel,bahkan sedih.Untuk melarutkan keadaan tersebut dalam hati kita adalah dengan bersikap kompromi terhadap diri kita,yaitu dengan tetap memandang positif.
Bagaimana bisa hal yang buruk harus dikompromikan untuk menjadi baik,bukankah itu sebuah skandal? hey..kita tidak sedang bicara politik praktis kawan.Yang kita bicarakan adalah manusia,makhluk dengan sejuta emosi dan pemikiran.Manusia bisa menjadi makhluk paling mulia dengan menggunakan emosi dan pemikiran pada tataran yang benar,tapi sekejap itu pula manusia bisa menjadi makhluk yang lebih rendah dari binatang jika emosi dan pemikiran dibiarkan berkembang liar.
Kembali ke pokok tulisan,seringkali kita menetapkan standar kebahagiaan dalam pemikiran kita.Tanpa kita sadari terkadang standar itu membatasi kita untuk dapat melihat kebahagiaan yang sudah ada,yang bahkan terkadang tidak dimiliki dan diinginkan oleh orang lain.Kita jadi terbelenggu oleh standar yang kita buat sendiri.
Bocah A memiliki standar kebahagiaan yang berbeda dengan Zafir.Ketika standar tersebut belum mampu terlampaui maka yang ada adalah pemberontakan terhadap diri sendiri dan sekitarnya.Sedangkan Zafir ketika standar kebahagiaannya belum mampu terjangkau dia memilih untuk menatap ke kebahagiaan yang sudah ada.Meski begitu Zafir tidak pernah menyerah untuk menagih kebahagiannya.."bapak.naik odo.." lagi-lagi tanpa "ng".
Dari sini kita bisa melihat bahwa letak kebahagiaan itu adalah relatif.Dia akan selalu ada jika kita mampu menyikapi keadaan dengan arif.Tapi dia juga tidak akan pernah kita temui jika kita selalu salah menilai keadaan.Tapi pada intinya kebahagiaan itu ada dalam hati dan pemikiran kita yang akan melahirkan sikap yang tepat.
Memang alam pemikiran kita sangat jauh berbeda dengan kedua bocah tadi,tapi betapa seringkali Allah swt memberi kita pelajaran lewat sesuatu yang mungkin bagi kita adalah hal remeh.Tergantung kita mau atau tidak memahami pelajaran yang diberikan olehNya
Kalaupun aku mengambil contoh dari anakku sendiri dengan perbandingan anak orang lain,bukan aku bermaksud ujub,pamer dan menganggap anakku lebih baik dari anak orang lain,sama sekali tidak.Masih kuperlukan ribuan jam untuk dapat memahat aqidah dan akhlak Zafir menjadi manusia yang sesuai dengan apa yang diajarkan agama.
Wallahuallam.
"Tidak ada hal yang buruk yang datang dari Allah swt.Hanya ketidakmampuan manusia memahami misteri otoritas kehendakNya yang melahirkan kesalahpahaman".
(Muhammad Ibnu Jabir Ibnu Sinan al Battani)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar