Sabtu, 28 Mei 2011

HANYA ANTARA KAU DAN ALLAH SWT

Gedubrak..!! pagi itu temanku datang membuka pintu kamarku.Aku yang masih tertidur lelap langsung meloncat persis kucing kesiram air cucian.Begitu tahu yang mendobrak pintu adalah temanku,aku segera memaklumi kesintingannya.Makhluk satu ini pasti lagi ada masalah,maka segera kubikinkan kopi untuk meredam amarahnya,mumpung belum jendelaku yang ikut di gamparnya.

Aku sendiri segera duduk manis meski muka belum cuci muka (tapi tetap manis kok menurutku),hanya untuk mendengarkankan bencana macam apa yang tengah di alami sobatku satu ini.
"Kau tahu apa yang terjadi semalam nif?",begitulah temanku mengawali luapan amarahnya."nggak"jawabku mantap."Aku selama ini sudah berusaha berbuat baik kepadanya,tapi apa balasannya?".Setelah itu satu demi satu uneg-uneg yang terpendam semalaman,mengalir deras seperti air di selokan yang sudah di bersihkan.

Dia bercerita kepadaku tentang kawannya yang telah lupa kepadanya.Dulu ketika kawannya masih belum punya apa-apa (sebagai kata terhalus untuk miskin),temanku satu ini yang selalu membantunya dengan cucuran darah dan air mata..eh nggak ding,tapi membantunya dengan segenap jiwa dan raga.Dan kini setelah kaya,semua yang pernah ada seperti dilupakan begitu saja,seperti tak pernah terjadi,tak pernah kenal."Sombong sekali dia sekarang nif !,dulu ketika dia butuh aku,aku selalu ada,tapi sekarang jangankan ingat,sama aku seperti tidak kenal!".

Begitulah sebagian bait kemarahan temanku yang diucapkan dengan berapi-api layaknya pidato Hitler membakar semangat pasukannya di medan perang,padahal tanpa dia sadari air liurnya juga beterbangan mengisi cangkir kopi yang kubikinkan tadi..Kubiarkan saja toh dia sendiri yang meminumnya

Peristiwa itu telah terjadi begitu lama,ketika aku masih hidup luntang-lantung membujang.Tapi aku tidak pernah melupakannya.Mengapa? karena setelah itu sandalku juga ikut jadi korban.Sandalku dibawanya pulang karena dia buru-buru ke tempatku memakai sandal yang sudah mau putus.Sehingga ketika ia pulang sandalku jadi korban juga.Aku hanya mengelus dada melihat sandalku sudah nangkring di kakinya.Makanya aku tak pernah lupa,karena temanku itu punya hutang sepasang sandal jepit dan sampai sekarang belum di bayar meski yang sebelah saja .

Kisah tersebut kembali terjadi beberapa waktu lalu,tapi kali ini dengan aktor yang berbeda,tapi skenarionya secara garis besar sama,dengan judul "Air Susu Di Balas Dengan Air Tuba".Berbeda dengan beberapa tahun lalu,aku tidak pernah tahu jawabannya,kini aku yang telah tumbuh menjadi satria baja hitam yang siap membasmi kejahatan di muka bumi ..hush,ngawur!.Betapa waktu telah menyeret dan memaksa jiwaku untuk tumbuh dalam bimbinganNya.

Peristiwa seperti yang dialami temanku sudah jamak terjadi di sekitar kita.Sebagai umat manusia yang heterogen,heterogen pula sikap dan pemikiran kita.Meskipun kita terlahir dari satu manusia,yaitu Adam tapi keMahaluarbiasaan Allah menciptakan manusia dengan beribu karakter dan rupa.Jangankan manusia satu dengan lainnya,kembar identik saja terkadang berbeda pula sifat dan karakternya meskipun mereka berasal dari satu sel telur yang sama.Ini pelajaran pertama sebelum kita masuk ke pelajaran selanjutnya,jadi catat baik-baik ya anak-anak?

Karena itulah seringkali terjadi perbedaan pendapat,kemauan,orientasi dalam hubungan sesama kita,itu sudah menjadi sunnatullah.Ketika kita berbuat baik terhadap orang lain,mungkin saat itu kita tidak berharap apa-apa selain untuk menolong,titik.Bahkan seringkali kita berkata "..aku ikhlas kok..".Tapi apa yang ada di hatimu ketika orang yang sudah engkau tolong kemudian tidak mengucapkan terimakasih?Atau malah ngeloyor pergi?atau malah memaki-maki?

Atau bagaimana dengan cerita salah satu kawanku yang satu lagi,ketika mendapat musibah harta warisannya lenyap di amankan maling.Dan ketika tertangkap malingnya ternyata adalah orang yang sudah bertahun-tahun di tolongnya.Aku sendiri juga pernah mengalami peristiwa seperti yang kuceritakan di awal cerita.Dulu,seperti manusia pada umumnya aku juga merasa marah,jengkel,bahkan tanpa sadar kuungkit semua kebaikanku dan berikrar.."awas kamu kalo butuh bantuanku lagi.."

Sampai suatu saat aku mengalami peristiwa yang memberiku jawabannya.Saat itu seperti biasanya tanggal tua,uang belanja sudah tipis..pis..sedangkan tanggal gajian masih lama.susunya Zafir tinggal sebungkus lagi,mungkin cuma cukup buat 5 hari saja..Aku segera kesana-kemari mencari pinjaman termasuk kepada teman-temanku.Tapi tak satupun mampu memberi pinjaman.Mau pinjam ke IMF juga ga kenal sama direkturnya,malah dengar-dengar direkturnya sedang kena kasus he he he
Saat itulah ada sedikit rasa sesal kepada teman-temanku.Dulu saat mereka butuh aku setiap saat,setiap saat itu pula aku akan berusaha memberi bantuan semampuku,tapi kini ketika aku yang butuh bantuan,tak satupun dari mereka yang sudi menolongku.Itulah penilaianku yang hanya dari satu sisi terhadap teman-tamanku saat itu.

Saat itulah aku mulai menyadari,bahwa hidup itu bukan matematika baku yang dulu sering kupelajari di sekolah.Dimana 1+1=2,dimana setiap satu demi satu kebaikan yang kita tanam pada orang lain,seringkali tanpa kita sadari menjebak kita untuk berharap bahwa suatu saat angka satu tersebut memberi hasil imbal balik kepada kita sesuai dengan apa yang telah kita beri,atau paling tidak mendekati.Paradigma tersebut seringkali menyeret kita ke dalam kekecewaan jika apa yang kita beri tidak kembali kepada kita.Betapa jargon dari budaya Barat Take and Give seringkali meracuni kita akan maknanya

Mungkin pemikiran tersebut sudah ngendon di alam bawah sadar kita semenjak kita kecil.Dan tanpa kita sadar akan membawa kita dalam sebuah perspektif yang berbeda tentang hubungan sosial sesama manusia.Padahal tidak seharusnya hubungan sesama manusia hanya di pandang dengan sebuah perhitungan yang sempit seperti itu,karena terlalu banyak kemungkinan yang kita tidak pernah tahu

Dari pengalaman yang kualami,aku mulai belajar bahwa berharap hanya kepada manusia hanya akan menimbulkan kekecewaan saja.Pemikiran yang apatis?aku rasa tidak kawan.Karena tidak setiap manusia memiliki pola pikir yang sama dengan kita.Karena manusia tidak memiliki kemampuan untuk memenuhi harapan kita.
Ikon demokrasi Myanmar,Aung San Suu Kyi pernah mengatakan.." Jika anda memutuskan melakukan sesuatu,jangan sebut itu sebagai pengorbanan,karena tidak ada seorangpun yang memaksa anda melakukannya.."

Ya,tidak pernah ada orang memaksa kita untuk berbuat baik kepada orang lain,jikapun kita berbuat baik janganlah itu kita hiperbolik dengan kata "pengorbanan".Menolong ya menolong,selesai.Jangan biarkan pemikiran kita mengembara bahwa suatu saat kita akan ditolong orang tersebut.Dengan kata lain berharap atau menuntut balas budi atau sekedar berharap ucapan "terimakasih"

Mengapa bisa begitu?Karena sesungguhnya saat kita berbuat baik kepada orang lain,sesungguhnya kita tidak sedang bertransaksi kebaikan dengan orang tsb.,tapi dengan Allah swt.Sedangkan orang yang kita tolong hanyalah media dari Allah swt untuk kita berbuat kebaikan.Dan ingat kawan,tidak ada satupun perjanjian yang mengikat antara sesama manusia untuk membalas setiap kebaikan yang sudah dilakukan.Jika kita menolong orang lain,tidak pernah ada hukum ataupun undang-undang yang menyatakan bahwa orang tsb harus membalasnya kepada kita jika kita membutuhkan bantuannya.Tidak pernah ada paksaan orang lain berbuat baik ataupu membalas kebaikan kepada kita,seperti halnya tidak ada paksaan kita berbuat baik kepada orang lain.Semua tergantung bagaimana kita memandang nilai kehidupan itu sendiri.Ngerti pora son?

Akan tetapi kawan,hanya Allah swt lah yang memberikan jaminan kepada kita bahwa setiap kebaikan yang kita lakukan akan mendapat balasannya,bahkan bisa lebih dari yang sudah kita lakukan.(QS Al Baqarah 245,261).Wow..sekali lagi Islam memberikan solusinya dengan brilian!.lewat kitabNya.Allah swt seolah membuat perjanjian dengan kita hambaNya.
Jadi? mari kita rubah jargon barat yang menyesatkan Take and Give itu menjadi Give and Give.
Begitu selesai kebaikan itu kita tunaikan,segera potong sampai di situ keberharapan kita akan balasannya kepada orang tsb.Usahlah kita dipusingkan dengan apa yang akan di berikan orang lain kepada kita.Segera kita transaksikan (serahkan) dengan Allah swt dan biarlah Allah swt yang menghitung dengan kalkulasiNya yang jauh berbeda dengan kalkulasi manusia..Yakinlah cepat atau lambat balasan Allah akan menghampiri kita meskipun mungkin dalam bentuk yang berbeda,atau bahkan mungkin melebihi ekspektasi kita.Bukankah hanya Dia yang seringkali selama ini memberi kita tanpa pernah kita meminta?jadi yakinlah.

Dengan keyakinan itu kita bisa terbebas dari pengharapan yang sia-sia kepada sesama manusia.Kita akan terbebas dari rasa kecewa yang dangkal,yang pada akhirnya akan memperbaiki kualitas keimanan dan hidup kita.Sulit?pasti kawan,karena mungkin kita tidak terbiasa,tapi tidak ada salahnya kita membiasakannya dari sekarang?

Adapun masalah orang tsb tidak tahu terimakasih atau apapun,biarlah itu menjadi urusan dia sendiri dengan Allah swt.Karena sesungguhnya saat itulah Allah memberi contoh kepada kita tentang sebuah sikap yang tidak pantas untuk kita tiru.Jika kita mengeluh bahkan memakinya,lantas apa bedanya kita dengan dia?

Begitulah kawan..jika kita masih terpenjara akan rasa berharap kepada manusia,maka kita akan terpenjara rasa kecewa yang tidak berujung jika semua tidak sesuai harapan.Maka yang keluar adalah mengeluh,caci maki,mengungkit kebaikan.Yang semuanya tidak akan memberi solusi apapun atas permasalahan kita,bahkan membuat nilai ibadah kita terhadap mereka menjadi berkurang atau hilang.Karena sebenarnya di saat orang lain yang pernah kita tolong tidak mengucapkan terimaksih,tidak membalas kebaikan kita bahkan menipu sebenarnya saat itulah Allah swt menguji kadar keikhlasan kita yang mungkin pernah kita ucapkan sendiri.

Biarlah kebaikan yang sudah kau lakukan menjadi urusan antara kau dan Allah swt


 Wallahuallam












Tidak ada komentar:

Posting Komentar