Minggu, 01 Mei 2011

PLURALITAS DAN PLURALISME,SERUPA TAPI TAK SAMA

 Pluralisme Dalam Pluralnya Agama

Beberapa hari setelah memposting tulisan saya berjudul "WARNA-WARNI ISLAM',tanpa sengaja saya membaca sebuah tulisan tentang isi surat seorang tokoh pluralis Fritjof Schuon kepada Albert Ossey di tahun 1932 yang berbunyi.."..Semua jalan setapak itu berbeda-beda,namun menuju ke arah yang sama,mencari satu hal yang sama,menuju tujuan yang sama,yaitu Tuhan..".Saya jadi teringat dengan  kalimat di paragraf terakhir postingan saya tersebut yang berbunyi.."..seperti halnya pelangi yang berwarna-warni,tapi semua berawal dari titik yang sama,berangkat secara bersama menuju titik yang sama pula.."Bukankah sekilas kedua ungkapan tersebut memiliki kemiripan dalam arti?entah kebetulan atau tidak.Ditambah dengan judul postingan yang mirip dengan tag iklan propaganda tentang pluralisme milik JIL yang pernah tayang di televisi beberapa tahun lalu yaitu ISLAM WARNA-WARNI,membuat saya tergelitik untuk kembali menulis.

Perkembangan pluralisme di era sekarang kian pesat,hampir semua media yang menjadi santapan jutaan masyarakat Indonesia gencar mempropagandakan gerakan pluralisme baik secara terselubung maupun terang-terangan.Di sisi lain perkembangan itu menimbulkan sebersit kekhawatiran pada diri saya.Yang menjadi kekhawatiran saya pribadi adalah bagaimana wujud generasi mendatang bila paham pluralisme merasuki otak mereka?
Sebenarnya sejak saya sekolah SD,kira-kira 20 tahun lalu paham ini sudah diajarkan di sekolah-sekolah (silakan di lihat di postingan saya berjudul ISLAM DI INDONESIA DALAM AGRESI KAUM SEPILIS,Maret).Menandakan tuanya masa edar paham ini di Indonesia.Hanya saja saat itu pergerakannya tidaklah sedahsyat era sekarang.Media televisi maupun media massa masih tidaklah sesubur sekarang.Tekhnologi yang ada belum begitu mendukung.Semua informasi yang mengalir ke masyarakat tidaklah sederas sekarang.Semua masih serba terbatas.
Begitu gong era reformasi di tabuh sekitar tahun 1998,maka perlahan-lahan paham ini mulai berani muncul ke permukaan lewat ormas-ormas,lembaga pendidikan,media massa (koran,radio,televisi),kebudayaan,maupun lewat media dunia maya.Pokoknya paham ini berusaha memasuki tempat -tempat strategis yang gampang di akses masyarakat.

Yang menjadi gula-gula bagi paham ini salah satunya adalah bahwa pluralisme itu paham yang menghormati agama lain.Ini yang menjadi magnet bagi banyak kalangan untuk menyetujui paham ini dan mengajarkannya.Padahal setelah ungkapan "menghormati agama lain" masih ada terusannya yaitu "mengakui kebenaran semua agama".Dengan begitu setiap agama yang tentunya memiliki perbedaan teknis baik dalam ritual maupun ajarannya,menjadi serba relatif.Tidak ada kebenaran mutlak bagi setiap agama.Yang juga berarti setiap kitab suci semua agama (yang berfungsi sebagai panduan dan identitas dalam beragama) menjadi serba absurd,karena tidak semua konsep beragama yang berlaku di setiap kitab suci sama adanya,tetapi dipaksa untuk sama dan sama benarnya. Sedangkan teknis maupun ajaran yang berbeda dari setiap agama hanyalah cara yang berbeda dalam mengekspresikannya menuju kebenaran yaitu Tuhan.Begitulah garis besarnya.

Sampai di titik ini lah yang menjadi awal kegelisahan saya.Jika generasi anak-anak kita terasuki  pemikiran yang pluralis (naudzubillahimindalik),bisa jadi mereka akan selalu memperdebatkan tentang Tuhan,mengapa Tuhan di setiap agama yang memiliki konsep keTuhanan yang berbeda tetapi di anggap semuanya sama dan benar?Dimana letak kebenarannya jika tiang-tiang dan fondasi semua agama sangat berbeda tapi dianggap sama dan benar?.Kegelisahan yang lebay?mungkin,tapi jika melihat paham ini bangkit kembali setelah sempat mati suri bukan tidak mungkin di masa depan paham ini menjadi ideologi baru bagi generasi mendatang.
Titik kegelisahan selanjutnya adalah betapa paham ini kini juga di gandrungi oleh mereka yang notabene adalah pemimpin-pemimpin agama yang memiliki masa dan memiliki pengaruh kuat terhadap massanya.Dengan begitu paham ini seolah memiliki legalitas yang kuat di setiap agama,yang kemudian berpengaruh terhadap para penganutnya.Menjadikan paham ini memiliki power lebih dan seperti menemui jalan tol untuk menyebar ke  setiap umat.

Salah satu yang menjadi alasan bagi kaum pluralis untuk tetap mendakwahkan paham pluralisme adalah untuk menciptakan dan menjaga situasi kondusif karena kondisi bangsa Indonesia yang plural sehingga rentan digoyang permasalahan yang berbau SARA.Klaim kebenaran mutlak terhadap satu agama cenderung menimbulkan gesekan antar umat beragama,melahirkan radikalisme,penindasan, yang semuanya atas nama agama.Yang kesemuanya berpotensi merontokkan sendi-sendi Bhineka Tunggal Ika.Untuk itu pluralisme hadir sebagai penawar ataupun benteng bagi setiap kemungkinan timbulnya kemungkinan-kemungkinan tersebut.Atau dengan kata lain pluralisme untuk pluralitas.

Hmm...menurut saya ini adalah alasan yang terkesan mengada-ada.Meskipun saya tidak pernah mempelajari agama lain,tapi saya yakin setiap agama pasti mengajarkan kepada umatnya untuk saling menghormati dan menghargai sesama manusia,sehingga tanpa adanya ajaran pluralismepun manusia akan tetap hidup rukun jika mereka mengamalkan ajaran agama masing-masing dengan benar.
Di lain sisi penyamaan antara pluralisme dan pluralitas adalah sesuatu yang rancu menurut saya.Plural berarti beragam ,dimana dalam bahasa Indonesia kata yang berakhiran "isme" berarti adalah sebuah ide/paham,dimana dalam pluralisme berati kurang lebih sebuah paham yang mengakui kesamaan semua agama.Sedangkan akhiran"itas" dalam bahasa Indonesia adalah situasi atau kondisi,yang artinya pluralitas adalah sebuah kondisi atau situasi dalam kehidupan sosial,dimana dalam makna yang lebih dalam berarti pengakuan atas wujud keberagaman dalam masyarakat.
Bila ditarik ke ranah agama bisa diartikan pluralitas adalah pengakuan atas adanya keberagaman agama yang ada di dalam masyarakat.Sedangkan pluralisme agama adalah faham yang mengakui kesamaan dan kebenaran semua agama yang ada.

Sebagai seorang yang awam dalam ilmu pemikiran agama,saya hanya bersandar pada pemikiran sederhana saya saja.Tapi satu hal yang saya yakini,pluralisme untuk pluralitas adalah konsep yang yang akan mengacaukan konsep keTuhanan yang sudah baku bagi semua agama.Menjadikan penganut beragama selalu dalam keragu-raguan.Identitas agama menjadi kabur.


Menurut kaum pluralis,adalah hal yang bertentangan dengan keadilan dan kehendak Tuhan jika hanya satu saja agama di dunia yang dianggap benar,dan tidak mengakui kebenaran agama lain.Padahal Tuhan menciptakan manusia dalam keadaan yang plural dan selama ribuan tahun umat manusia mencari jalan keselamatan lewat agama-agama yang diyakininya.Jika hanya satu agama yang benar menurut Tuhan,mengapa Tuhan "menciptakan" banyak agama?.Tidak adil bukan?
Jadi bisa dikatakan bahwa Tuhan sengaja menciptakan pluralisme sebagai jawaban atas pluralnya umat manusia.Juga sebagai bentuk atas keadilan Tuhan.Semua agama yang ada hanya jalan yang berbeda menuju satu tujuan yang sama,yaitu Tuhan.
Oleh karenanya semua agama itu benar dan bisa diikuti.Memeluk dan beriman kepada satu agama dan mengamalkan ajarannya berarti sama dengan memeluk dan mengimani semua agama yang ada.Itulah salah satu konsep pluralisme yang di fatwakan oleg Sayed Hussein Nasr.


Tapi menurut pemikiran sedehana saya,konsep pluralisme adalah konsep yang melecehkan Tuhan secara halus.Konsep ini malah menentang keadilan dan kebijakan Tuhan.
Jika pluralisme adalah bentuk keadilan Tuhan,maka akan kita temui banyak tanda tanya dalam aplikasinya.Mengapa Tuhan harus menciptakan jalan yang berbeda untuk menuju Dia?.Jika Tuhan semua agama sama,mengapa umat muslim harus'menderita" dengan berpuasa sebulan penuh untuk menuju Tuhan sedangkan umat lain tidak?mengapa umat hindu harus menghentikan segala aktifitas duniawi di hari raya nyepi,sedangkan umat lain malah bersikap seperti biasa menyikapi hari raya nyepi?


Mengapa Tuhan hanya melarang umat hindu memakan daging sapi,seperti halnya Tuhan melarang umat islam memakan daging babi?.di sisi lain Tuhan tidak mempermasalahkan umat lain memakan keduanya,padahal sapi dan babi ciptaan Tuhan yang sama.Mengapa hanya umat kristiani yang di beri tahu oleh Tuhan di setiap 25 Desember adalah hari kelahirannya,sedangkan Tuhan tidak memberi umat lain hal yang sama?padahal Tuhannya sama.Mengapa Tuhan hanya memberi keistimewaan pada nabi Muhammad saw untuk bertemu Tuhan dalam Isra Mi`raj,sedangkan Buddha Sidharta Gautama tidak pernah bertemu Tuhan?.Mengapa hanya umat muslim yang di beri tahu oleh Tuhan tentang nominal harta yang harus dikeluarkan untuk zakat,sedangkan umat lain tidak pernah?.Dan masih banyak yang lainnya.

Pertanyaan-pertanyaan tadi apakah sebagai bentuk keadilan dan kebijakan dari Tuhan yang sama seperti yang di yakini kaum pluralis?jika"ya",berarti Tuhan bersikap diskriminatif pada satu umat terhadap umat yang lainnya karena tidak pernah memberi standar jalan yang sama.Justru ini yang bertentangan dengan keadilan Tuhan.

Memang adil bukan berarti sama,tapi jika Tuhan semua agama sama mengapa jalan yang diciptakan Tuhan untuk menuju Dia berliku bagi satu agama,tapi tidak bagi agama lainnya?mengapa ada keitimewaan bagi satu agama tapi tidak bagi agama lainnya?apakah ini tidak
justru bisa menimbulkan kecemburuan antara umat beragama,bisa-bisa mereka akan menggugat Tuhan,karena walau bagaimanapun manusia yang majemuk pasti dipenuhi dengan pemikiran yang berbeda juga.Apakah Tuhan tidak mengetahui hal ini?mustahil bukan?


Saya pribadi menduga disinilah letak kelemahan paham pluralisme untuk pluralitas.Untuk itu mereka menggandengkan  pluralisme dengan liberalisme dan sekulerisme agama,untuk memperkuat argumen tentang pluralisme.Dengan bersatunya tiga paham tersebut maka akan saling menguatkan satu sama lain.Padahal dengan bersatunya ketiga paham tersebut cenderung mengantarkan manusia menjadi makhluk yang tidak berTuhan.


Memang jika di telaah semua agama memiliki inti ajaran yang sama,yaitu hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhannya,dan hubungan horisontal antara sesama manusia.Lewat ajaran tentang hubungan antara sesama manusia lah Tuhan memberi jawaban atas keberagaman beragama,yaitu pluralitas,bahwa setiap agama mengakui kebenaranan keunggulan agama masing-masing dan tidak mengakui kebenaran agama lain,tapi dengan tetap bersikap menghargai dan menghormati agama lain,sebagai bentuk pengakuan adanya agama yang berbeda.


Wallahualam



 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar